Menteri Lukman imbau santri belajar agama disertai logika dan nalar
Menag menambahkan tradisi keilmuan di pesantren mampu menggabungkan antara pemahaman teks dengan akal, nalar, konteks dan logika. Sehingga pembelajaran di pesantren harus terus dilestarikan karena selama ini telah terbukti mampu mengharmonisasikan pendekatan teks, konteks, serta nalar dalam beragama.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap agar para santri-santri yang ada di berbagai daerah di Indonesia bisa menyeimbangkan pembacaan teks dengan nalar maupun logika dalam beragama. Harapan dari Menag ini disampaikan saat Halaqah Santri Nusantara di Gedung Multi Purpose Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Rabu (28/3).
"Menjaga kebangsaan adalah prioritas kita sebagai santri. Santri diharapkan bisa mengusung moderasi Islami. Moderasi memiliki makna lawan dari ekstrim. Ekstrim itu sesuatu yang berlebihan. Belakangan ini kita menemukan adanya paham-paham keagamaan terutama Islam yang ekstrim. Berlebihan," ujar Menag.
Menag mengharapkan, para santri belajar memahami Islam berdasarkan rujukan yaitu kitab suci Alquran. Selain itu, dia menambahkan, belajar juga dari kisah-kisah para Nabi dan Rasul yang diturunkan oleh Allah SWT.
Karena tidak mengalami masa-masa diturunkannnya Alquran dan mengenal langsung Nabi maupun Rasul, maka santri pun belajar dengan membaca teks-teks yang ada.
"Kita belajar kisah mereka dari teks. Di sinilah problem yang dihadapi. Kita menemui saudara-saudara kita yang ekstrem memahami teks itu. Konservatif dan mendewakan teks. Mengabaikan akal dan nalar. Sedangkan di sisi lain ada pula saudara-saudara kita yang mengabaikan teks tetapi sangat mendewakan nalar dan akal," urai politisi PPP ini.
Lukman menyampaikan agar para santri bisa menjaga keseimbangan dalam memahami teks agama dengan konteks, nalar dan akal. Sebab benturan di antara sejumlah pendekatan itu telah berkontribusi memunculkan pertumpahan darah seperti yang terjadi di sejumlah negara.
"Tidak mungkin memahami kitab suci serta riwayat para Rasul tanpa merujuk teks. Tetapi juga mana mungkin berpegangan teks semata, lalu mengabaikan nalar, mengabaikan konteks," jelasnya.
Menag menambahkan tradisi keilmuan di pesantren mampu menggabungkan antara pemahaman teks dengan akal, nalar, konteks dan logika. Sehingga pembelajaran di pesantren harus terus dilestarikan karena selama ini telah terbukti mampu mengharmonisasikan pendekatan teks, konteks, serta nalar dalam beragama.
"Jadi inilah yang menurut hemat saya perlu dipahami adik-adik santri. Sehingga Islam yang berkembang di negara yang sangat religius ini adalah Islam yang moderat, tidak ekstrem," tutupnya.
Baca juga:
Menag sebut santri punya tanggung jawab besar menjaga NKRI
Hindari isu SARA, Jokowi disarankan gaet cawapres dari santri
Tahun 2017 disebut momentum kebangkitan politik kaum santri
Latar belakang sebagai santri diharapkan bisa pimpin negeri
Peringati Hari Santri, ribuan warga NU Kota Kediri jalan sehat pakai sarung