LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Menkes: Gejala Varian Covid-19 Deltacron Mungkin Kayak Mu dan Lambda

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Deltacron kini masih berstatus variant under monitoring.

2022-03-18 19:08:48
Covid-19
Advertisement

Sejumlah negara di dunia melaporkan temuan kasus Covid-19 varian Deltacron. Seperti Denmark, Inggris, Belanda, Prancis, dan Amerika Serikat.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebut Deltacron kini masih berstatus variant under monitoring. Artinya, karakteristik varian tersebut masih dimonitoring, baik tingkat penularan maupun keparahan.

"Itu artinya, belum dipastikan transmisinya lebih cepat atau tidak, belum bisa dipastikan apakah parah atau tidak," jelasnya dalam konferensi pers yang disiarkan melalui YouTube Kementerian Kesehatan RI, Jumat (18/3).

Advertisement

Menurut Budi, Deltacron sudah ditemukan dalam dalam beberapa bulan terakhir. Namun, hingga saat ini penelitian belum menunjukkan temuan yang mengkhawatirkan.

"Berbeda dengan Omicron. Omicron masuk di WHO itu dua minggu langsung varint of concern," imbuhnya.

Mantan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga menyinggung soal gejala Deltacron. Dia menyebut, kemungkinan seperti gejala varian Mu dan Lambda. Gejala varian Mu yakni batuk, suhu tinggi, hingga kehilangan indera perasa dan penciuman.

Advertisement

"Jadi kalau kita lihat gejalanya mungkin ini kayak Mu dan Lambda, tidak semengkhawatirkan seperti yang kita bayangkan," tutupnya.

Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Prof. Zubairi Djoerban mengatakan kemungkinan Deltacron tidak lebih berbahaya dibandingkan Omicron. Namun, penilaian ini belum bisa dipastikan.

"Belum bisa dipastikan karena jumlah kasusnya masih amat sedikit," ujar Zubairi melalui akun Twitter @ProfesorZubairi yang telah diizinkan untuk dikutip merdeka.com, Selasa (15/3).

Dia menjelaskan, Deltacron merupakan varian Covid-19 yang terdiri dari elemen Delta dan Omicron. Artinya, varian ini mengandung gen dari kedua varian tersebut yang membuatnya menjadi virus rekombinan.

Dia menambahkan, masih terbatasnya data karakteristik Deltacron membuat banyak negara belum bisa mengukur tingkat kekhawatirannya, termasuk Indonesia.

"Hanya sedikit data yang dapat digunakan untuk mengukur khawatir atau tidak. Namun, sejumlah ahli mengatakan bahwa varian ini harus diawasi," ucapnya.

Zubairi kemudian membeberkan penyebab kemunculan Deltacron. "Ketika seseorang terinfeksi dengan dua varian Delta serta Omicron, dan sel mereka kemudian bereplikasi bersama," terangnya.

Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi menegaskan varian Deltacron belum terdeteksi di Indonesia.

Nadia memastikan pemerintah terus memantau perkembangan varian Deltacron. Baik dari sisi tingkat penularan, kemampuan memperparah penyakit, maupun kemampuan mengelabui imunitas tubuh masyarakat yang sudah divaksinasi.

"Apakah ini bisa mengelabui vaksin atau imunitas jauh lebih pintar darpada Omicron, ini juga belum tahu. Serta dampak terhadap pengobatan atau diagnostik, sampai saat ini belum cukup informasi," ujarnya, Senin (13/3).

Sekretaris Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat Kementerian Kesehatan ini menambahkan pemerintah juga terus meningkatkan whole genome sequencing untuk meneliti varian baru Covid-19 di Tanah Air. Namun, pemerintah belum merencanakan pembatasan pintu masuk bagi pelaku perjalanan luar negeri.

"Jadi tetap surveilans genome sequencing kita pantau apakah ada jalur-jalur mutasi seperti yang disampaikan tersebut," ucapnya.

Bersamaan dengan itu, pemerintah terus mempercepat vaksinasi Covid-19 dosis lengkap. Target pemerintah, 70 persen dari total populasi di Indonesia sudah mendapat vaksinasi dosis lengkap pada April 2022.

(mdk/ray)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.