Menkes Budi Gunadi: Banyak Data Negatif Covid-19 Tidak Dilaporkan ke Pusat
Sebab itu, pihaknya saat ini sudah memperbaiki user interface dalam aplikasi testing. Sehingga kata dia bisa memudahkan lab dan rumah sakit untuk memasukan laporannya.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin membeberkan permasalahan terkait kasus konfirmasi Covid-19 yang menurun sementara positivity rate di Indonesia terus meningkat. Hal tersebut disebabkan beberapa hal, pertama yaitu banyak data hasil tes usap atau PCR negatif yang tidak dilaporkan ke pusat.
"Kami mengamati bahwa banyak data mengenai hasil tes pcr kalau itu sifatnya negatif belum langsung dikirim ke pusat sehingga data yang kami terima itu lebih banyak yang poitif," kata Budi dalam keterangan pers dalam akun youtube Kementerian Kesehatan, Rabu (17/2).
Dia menjelaskan alasan mengapa pihak rumah sakit dan lab tidak memasukan hasil negatif, karena mereka menilai hasil yang terpenting saat ini adalah kasus positif. Sehingga bisa lebih mudah diatasi dan ditangani lebih cepat.
"Setelah kami cek dibeberapa rumah sakit dan laboratorium karena jumlah datanya demikian banyak dan juga user interface atau cara memasukan ke sistem aplikasi kita masih rumit itu mengakibatkan banyak lab yang memasukan data yang positif dulu," ungkapnya.
"Karena menurut mereka kan data yang positif agar bisa diisolasi itu mengakibatkan positivy ratenya naik. Itu adalah salah satu hipotesa yang kami amati, data kami akan uji," tambahnya.
Sebab itu, pihaknya saat ini sudah memperbaiki user interface dalam aplikasi testing. Sehingga kata dia bisa memudahkan lab dan rumah sakit untuk memasukan laporannya.
"Bisa dengan otomatis atau excel, dengan demikian kita merasa dengan masukannya lebih banyak data dan lebih lengkap serta data negatif itu yang akan membuat positivy kita merefleksikan angka yang sebenarnya," katanya.
Kemudian alasan kedua positivity rate meningkat karena testing yang kurang. Hal tersebut menyebabkan kasus positif lebih dulu meningkat. Sebab itu saat ini pemerintah gencar untuk melakukan testing dengan rapid antigen seiring dengan pemberlakuan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).
"Dengan demikian kita juga akan tahu lebih cepat apakah seseorang itu tertular atau tidak. Dengan demikian makin luasnya target pemeriksaan diharapkan bahwa positivy rate yang ada lebih menggambarkan keadaan yang sesungguhnya," bebernya.
Tidak hanya itu, dia juga membeberkan masih ada lab yang belum konsisten dalam memasukan laporan. Sebab itu pihaknya saat ini lebih intens berkomunikasi dengan para lab PCR diseluruh Indonesia.
"Memastikan agar mereka disiplin dan memastikan data yang lengkap dan ontime jadi jangan ditunda terlalu lama sehingga kita bisa melihat data positivity rate yang sebenarnya sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih tepat," ungkapnya.
Baca juga:
Pandemi dan Cuaca Ekstrem Sebabkan Harga Pangan Tak Stabil
Varian Baru Virus Corona Muncul Lagi di Inggris
Wagub DKI Sebut Angka Kesembuhan Covid-19 di Jakarta Tertinggi Capai 90 Persen
Menkes Klaim Penurunan Kasus Covid-19 Selama Dua Minggu Terakhir karena PPKM
Kemenkes Targetkan Vaksinasi Covid-19 Tahap 3 Mulai Juni 2021
Menkes Sebut Positivity Rate Covid-19 Meningkat karena Hari Libur