LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mengintip panasnya tradisi perang api di Pura Dalem Khayangan

Dua kubu pemuda dari banjar Tuban Geria dan Banjar Pesalakan, saling lempar bara api.

2015-09-28 18:46:11
Tradisi Unik
Advertisement

Tradisi perang api yang disebut 'Siat Geni' yang diwariskan secara turun temurun selalu digelar setiap tahunnya di altar pura Dalem Khayangan Desa Adat Tuban. Kali ini pada generasi pemuda (belum menikah) kembali menjalani ritual ini saat Bulan Puranama Kapat, Senin (28/9).

Dua kubu kelompok pemuda dari dua banjar yaitu Banjar Tuban Geria dan Banjar Pesalakan di Desa adat Tuban melakukan aksi saling serang dengan menggunakan bara api dari serabut kelapa. Peserta yang mengikuti tradisi ini hanya kaum laki-laki yang masih bujang.

Sedikitnya lebih dari 100 pemuda terlibat dalam peperangan ini. Sementara warga lain nampak tegang menyaksikan dua kubu pemuda dari banjar Tuban Geria dan Banjar Pesalakan, saling lempar bara api.



"Ini Upacara besar setiap setahun sekali. Dan selalu kami rayakan seperti ini, wajib dan tidak boleh tidak," Kata Manisepuh Pura ini, Jero Mangku Gede Dalem Khayangan desa Adat Tuban, Senin (28/9) di Tuban, Kuta Bali.

Dirinya menyebutkan bahwa ini adalah tradisi yang sudah turun temurun. "Sejak dahulu desa adat ini menggelar ritual perang api," terangnya.

Diterangkan Mangku Gede, bahwa saat upacara di pura dalem (setra atau kuburan) ini, semua para dewa dewi yang bersetana turun. Saat itu juga dewa dewi ini diikuti oleh pengiringnya atau maha patihnya. Para patih-patih ini salah satunya bernama Kala Geni Ludra yang memiliki kekuatan api dan bertugas melebur segala kekotoran di desa.

Untuk menyenangkan Kala Geni Ludra ini, maka digelarlah upacara Siat Geni atau perang api. Tujuannya agar Patih Geni Ludra tidak murka dan merasa terhibur sehingga terpanggil untuk membakar segala kenistaan di desa Adat Tuban melalui kekuatan apinya.



"Kita gelar ini untuk membuat kala geni ini senang dan tidak mengganggu. Karena kegemaran dari Kala Geni ini suka bermain api. Dengan menyenangkan Maha Patih Geni Ludra, berarti membangkitkan kekuatan beliau untuk menetralisir segala pengaruh buruk di desa dengan kekuatan beliau," kata Mangku Gede serambi memastikan bahwa peserta Siat Geni tidak ada peserta dalam keadaan trans.

Upacara ini katanya dilaksanakan setiap tahun sekali pada purnama kapat. Proses perang api ini berlangsung sekitar 1 jam. "Suguhan ini bukan kepada Tuhan, dewa atau Betara, tetapi kepada pengiring atau pengawal beliau yang biasa menjaga desa adat setempat," tambah Mangku Gede.

Salah seorang peserta, menyebutkan selama perayaan ini sudah mengikuti lebih dari empat kali. Selama itu pula yang dirasakan adalah betul-betul menikmati kegembiraan. "Senang saja pak, waktu mesiat (perang) tidak terasa panasnya bara api. Setelahnya baru terasa, tetapi itu tidak buat luka," ujar Manik, usai melakukan siat geni.

Setelah prosesi perang api, kembali dilakukan upacara nedunang Ida bhatara (memanggil Ida Bhatara). Pada prosesi ini banyak yang Trans, ketegangan ketika para patih-patih di pengawal juga turun dan merasuk ke Raga manusia untuk melakukan 'Ngurek atau ngunying' (menusukkan keris ke raganya).

Advertisement
(mdk/hhw)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.