Mengenal Tompel, joki cilik di arena pacu kuda Takengon
Tompel, begitulah rekan-rekannya memanggil Fiska Hafiz. Joki cilik berusia 13 tahun tampak santai sebelum tampil di lapangan pacu kuda perdananya setelah lama berlatih.
Tompel, begitulah rekan-rekannya memanggil Fiska Hafiz. Joki cilik berusia 13 tahun tampak santai sebelum tampil di lapangan pacu kuda perdananya setelah lama berlatih.
Di kandang kuda, belakang panggung utama lapangan pacu kuda Blang Bebangka, Kecamatan Pegasing, Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Senin (17/9), Tompel tampak sibuk bersama kuda kesayangannya.
Kepala kuda miliknya yang diberi nama Paraboy dielus-elus pelan. Sesekali ia tatap mata kuda, kembali dielus. Kuda tampak akrap dengan Tompel. Sedangkan rekannya sibuk membersihkan badan kuda dengan sikat khusus.
Bagi Tompel, hari ini merupakan pengalaman bersejarah baginya. Kenapa tidak, setelah berlatih sejak satu tahun terakhir. Kini dia mencoba untuk membuktikan kebolehannya. "Sejak satu tahun sudah berlatih," kata Tompel kepada merdeka.com.
Dataran tinggi Gayo memang cukup dikenal dengan perlombaan pacu kuda tradisional. Setiap perayaan hari-hari besar nasional dan lokal, selalu diselenggarakan perlombaan pacu kuda.
Pacu kuda, bagi masyarakat dataran tinggi Gayo sudah menjadi tradisi yang dilakukan secara turun menurun. Hampir semua pemuda di dataran tinggi Gayo, bisa menunggang kuda. Meskipun tidak bisa menjadi Joki, setidaknya tak asing dengan olahraga ini.
Tompel misalnya, dia mengaku sejak kecil sudah berkeinginan menjadi joki. Keinginan Tompel itu mendapat restu dan dukungan dari orang tuanya.
Tompel memang sedikit pendiam. Dia cukup irit bicara. Justru lebih banyak tersenyum. Namun Joki cilik yang hendak masuk kelas satu Sekolah Menengah Pertama ini, bertekad menjadi joki profesional nantinya.
Baginya, perlombaan pacu kuda yang dihelat untuk memeriahkan Gayo Alas Mountain International Festival (GAMIFest) 2018 ini. Bisa menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan. Ia cukup berkeinginan mengharumkan nama Takengon melalui pacu kuda.
Tompel joki cilik arena pacu kuda di Takengon ©2018 Merdeka.com/Afif
"Enggak takut, karena memang sudah biasa. Saya ingin jadi Joki memang," tukasnya.
Sementara itu Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus mengatakan, event pacu kuda ini bisa memberikan semangat bagi peternak kuda untuk merawat kudanya dengan baik. Sehingga ke depannya, Aceh Tengah bisa menjadi pusat produsen kuda.
"Ke depan Aceh Tengah harus jadi produsen kuda, selama ini beli mahal dari luar, jadi sekarang harus jadi produsen kuda, akan dibeli mahal dari kita. Pacuan kuda harus mengakomodir kepentingan masyarakat," kata Firdaus pada pembukaan pacu kuda.
Firdaus berharap, pacu kuda ini bisa berkontribusi besar untuk meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Khususnya bagi yang memelihara kuda di Takengon. Dia juga meminta pacu kuda tidak menjadi ajang melanggar syariat Islam. Tidak ada yang berjudi saat pacu kuda. Karena tidak sesuai dengan adat dan istiadat Gayo dan juga melanggar syariat Islam
"Tidak boleh ada yang bermain judi," tukasnya.
Sedangkan pesan Wakil Bupati kepada joki, agar setiap bertanding selalu sportif. Tidak boleh ada yang berlaku curang saat sedang bertanding. "Ke depankan sportivitas saat bertading," imbuhnya.
Pada perlombaan pacu kuda kelas muda ini. Tompel memang tidak mendapatkan juara. Tompel tertinggal di belakang. Dari lima kuda yang ikut lomba, Tompel hanya mampu mengekor paling belakang.
Namun, bagi Tompel, setidaknya ia sudah mencoba aura perlombaan sebenarnya. Ia mengaku akan terus berlatih agar bisa meraih prestasi masa yang akan datang. Good Luck Tompel!
Baca juga:
Mengenal Sirocco, kuda termahal di Asian Games 2018 seharga Rp 200 M
Aksi atlet berkuda Indonesia cetak sejarah di Asian Games 2018
Live Streaming Asian Games 2018: Berkuda
Anies Baswedan tinjau Jakarta Equestrian Park untuk Asian Games
Melihat lebih dekat wajah baru Jakarta Equestrian Park
Aksi ekstrem para gaucho taklukan kuda liar di Uruguay