LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mengenal Asfiksia, Kondisi yang Dialami Mayoritas Korban Tragedi Kanjuruhan

Dewan Pakar Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menjelaskan, asfiksia merupakan kondisi di mana seseorang memiliki gangguan pernapasan yang berpengaruh terhadap kadar oksigen dalam tubuh.

2022-10-08 05:31:00
Be Smart
Advertisement

Sekurangnya 131 orang meninggal dunia dalam tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang pada Sabtu (1/10) malam. Sebagian besar disebutkan mengalami asfiksia.

Pertanyaan pun muncul, apa itu asfiksia? Berikut penjelasan pakar kesehatan mengenai asfiksia:

Dewan Pakar Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menjelaskan, asfiksia merupakan kondisi di mana seseorang memiliki gangguan pernapasan yang berpengaruh terhadap kadar oksigen dalam tubuh.

Advertisement

Asfiksia, lanjut dia, berbeda dengan sesak napas secara umum. Orang yang sesak napas masih mampu mendapatkan oksigen, sedangkan asfiksia terjadi manakala seseorang mengalami sesak yang berlebihan, sehingga membuat oksigen terbatas masuk ke paru-paru.

"Jadi memang kalau kita menarik napas, oksigen masuk melalui hidung dan mulut. Selanjutnya akan masuk ke peredaran darah. Karena di dalam paru-paru itu terhubung dengan pembuluh darah kecil atau kapiler. Dan pada akhirnya menuju jantung dan diputar ke seluruh organ tubuh. Muatan dan materi utama adalah oksigen," jelas Hermawan kepada merdeka.com, Jumat (7/10).

Hermawan menuturkan, di tengah proses tersebut bisa saja terjadi gangguan. Gangguan inilah yang menyebabkan asfiksia. Secara umum, bentuk gangguan bisa disebabkan beberapa hal.

Advertisement

"Mulai dari orang tersedak, misalnya salah makan atau minum. Kemudian juga mungkin ada paparan zat kimia tertentu yang akhirnya menstimulus gejala alergi untuk sebagian orang. Ada juga kondisi yang karena asap," tuturnya.

Asfiksia pada Tragedi Kanjuruhan

Dia berpandangan, asfiksia dialami para korban meninggal dalam Tragedi Kanjuruhan berkaitan dengan keterbatasan ruang dan akses oksigen. Utamanya, ketika para penonton panik usai polisi menembakkan gas air mata. Akibatnya penonton berdesakan keluar dari stadion, tetapi terhalang pintu yang terkunci.

"Itu kan dalam ruang tertutup banyak sekali orang, oksigen terbatas, sirkulasi tidak ada. Maka saat itu bisa terjadi cedera otak dan juga kesadaran akhirnya menurun hingga menyebabkan kematian," kata dia.

"Karena terjadi hampa udara dalam keadaan tertutup di tengah ramai. Jadilah orang itu kesusahan oksigen yang menyebabkan asfiksia," sambungnya.

Hermawan menambahkan, kandungan zat kimia dalam gas air mata juga bisa menyebabkan asfiksia. Perlu diketahui, gas air mata mengandung zat kimia chloroacetophenone (CN), chlorobenzylidenemalononitrile (CS), chloropicrin (PS), bromobenzylcyanide (CA) dan dibenzoxazepine (CR).

"Asfiksia itu salah satunya disebabkan zat kimia yang membuat iritasi. Jadi gas air mata juga bisa menyebabkan asfiksia itu sendiri. Dengan dihirup kan bisa sesak tuh. Iritasi pada sistem pernapasan bisa membuat asfiksia," ujarnya.

Dia melanjutkan, penanganan pertama bagi orang yang mengalami asfiksia ialah memberikan bantuan oksigen. Apabila tidak ditangani secara tepat, asfiksia berisiko menyebabkan cacat hingga kematian.

"Kalau terjadi gangguan di otak bisa menyebabkan stroke atau kelumpuhan. Pada penanganan tertentu membutuhkan waktu yang panjang untuk rehabilitasi. Jadi, orang yang kekurangan suplai oksigen dalam darah bisa berujung stroke bahkan kematian," jelas Hermawan.

Penjelasan Kapolri

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit menyatakan, banyaknya korban meninggal dunia pada Tragedi Kanjuruhan disebabkan afiksia.

"Dari setelah banyak muncul korban yang mengalami patah tulang yang mengalami trauma di kepala dan juga sebagian besar meninggal mengalami afiksia," kata Listyo di Mapolres Kota Malang, Kamis (6/10) malam.

Selain itu, lanjut Listyo, ditemukan fakta bahwa penonton yang hadir hampir 42 ribu dan hasil pendalaman dari panitia pelaksana tidak disiapkannya keadaan darurat untuk menangani situasi darurat.

“Sebagaimana diatur regulasi PSSI, tentunya kelalaian tersebut menimbulkan pertanggungjawaban," jelas Listyo.

Kerusuhan terjadi setelah pertandingan antara Arema FC melawan Persebaya Surabaya yang berakhir dengan skor 2-3 untuk kemenangan Persebaya.

Adapun Polri memperbarui data korban tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang. Total korban sebanyak 678 orang sebagaimana data, Jumat (7/10).

"Jumlah total korban 678 orang," kata Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Dedi Prasetyo dalam keterangannya.

Dari total 678 korban, terbagi menjadi 131 orang korban meninggal. Sementara 547 orang korban luka-luka terbagi menjadi luka ringan 131 orang, luka sedang 43 orang, dan luka berat 23 orang.

Reporter Magang: Michelle Kurniawan

(mdk/yan)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.