Mengapa pesawat sering tergelincir di Bandara Pekanbaru?
Menurut Bambang, setiap ada insiden pesawat tergelincir tidak bisa disalahkan pada satu faktor tertentu saja.
Dalam kurun waktu empat bulan terakhir, tiga pesawat tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim Pekanbaru. Yang teranyar, pesawat Boeing 737 NG-800 bernomor GA 174 milik Garuda Indonesia juga tergelincir saat mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Selasa (17/7).
Seringnya kejadian pesawat tergelincir di Pekanbaru tentu menimbulkan tanda tanya besar, ada apa dengan bandara Sultan Syarif Kasim tersebut?
Jumat (30/32), pesawat Batavia Air tergelincir berada di ujung landasan. Pesawat Batavia Air Y6-566 tersebut, posisinya melintang. Saat kejadian cuaca cukup cerah, kecepatan angin 10 km/jam dan kelembaban 49 persen.
Lion Air juga pernah tergelincir di bandara tersebut. Pesawat Boeing 767 900 IR itu keluar pacu jalur di Bandara Sultan Syarif Kasim II. Bahkan roda pesawat yang ambles ke dalam tanah membuat pesawat tidak dimungkinkan ditarik ke landasan pacu untuk dibawa ke parkir.
"Khusus untuk pesawat Boeing 767 900 IR memang dilarang mendarat dan terbang bila kondisi hujan di sana. Tapi itu kejadian dulu yang Lion Air," ujar Humas Dirjen Kementerian Perhubungan Bambang S Ervan kepada merdeka.com, Rabu (18/7).
Menurut Bambang, setiap ada insiden pesawat tergelincir tidak bisa disalahkan pada satu faktor tertentu saja. Menurutnya, ketika sebuah pesawat tergelincir biasanya akan ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kejadian nahas tersebut.
"Untuk kejadian kemarin kita belum tahu, nanti itu KNKT yang menangani. Saat ini bandara Pekanbaru sudah bisa dioperasikan dengan beberapa catatan," imbuhnya.(mdk/hhw)