Mendikbud: Jangan sampai anak pintar tak kuliah karena biaya
"Pandangan bahwa orang miskin tidak bisa kuliah kita patahkan. Anak miskin bisa kuliah, anak miskin harus kuliah."
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhammad Nuh menyatakan, pemerintah telah berupaya keras meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidikan di Tanah Air. Tak hanya itu, melalui aturan perundang-undangan, setiap perguruan tinggi diwajibkan untuk memberikan slot sebesar 20 persen bagi anak desa tertinggal dan tak mampu.
Menurutnya, pendidikan itu bukan kewajiban pemerintah, tapi negara secara umum. Sehingga, semua pihak termasuk perguruan tinggi wajib memikul tanggung jawab tersebut, yakni memberikan fasilitas pendidikan bagi semua pihak.
"Kita ingin memastikan, jangan sampai ada anak kemampuan akademik tidak bisa kuliah karena biaya. Bahkan muncul pandangan orang miskin dilarang kuliah," ujar Nuh pada 'Silaturahim Presiden SBY dengan mahasiswa bidikmisi tahun 2014' di Assembly Hall Hotel Bidakara, Jl Jend Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (27/2).
Ungkapan itu, lanjut Nuh, bukan omong kosong, sebab pada 2007 mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu sebanyak 1,4 persen, jumlah ini meningkat 4,7 persen pada 2011. Untuk menghilangkan beban biaya tersebut, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan program bidikmisi, yakni beasiswa bagi mahasiswa dari keluarga tidak mampu.
"Pandangan bahwa orang miskin tidak bisa kuliah kita patahkan. Anak miskin bisa kuliah, anak miskin harus kuliah, bidikmisi jawabannya. Kita ingin hal yang tidak mungkin jadi mungkin," ungkapnya.
Sejumlah mahasiswa yang meraih beasiswa ini, banyak di antaranya yang memperoleh cum laude, termasuk dari kedokteran dan teknik informatika. Tidak menutup kemungkinan, penerima program ini akan mendapat gelar master dan doktor dalam kurun antara 5-10 tahun mendatang.
"Di samping itu, kami persiapkan skema presidential scholarshi. Pada saatnya nanti, presiden melucurkan beasiswa kepresidenan tersebut," pungkasnya.
Bidikmisi adalah beasiswa yang diberikan pemerintah kepada mahasiswa yang berasal dari keluarga tidak mampu, atau desa tertinggal. Dalam rentang waktu 2010-2013, program ini telah diikuti lebih dari 1.200 mahasiswa dari 98 perguruan tinggi negeri dan swasta.
Hingga 2013, peserta program ini telah mencapai 149.769 orang. Dari jumlah itu, 140 orang di antaranya menyandang predikat Cum Laude dari berbagai bidang.(mdk/did)