LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Menag Lukman imbau umat Islam untuk hormati & hargai perbedaan

Lukman mengingatkan, Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai perbedaan dan tidak memaksa kehendak orang lain dalam beragama sebagaimana tercantum dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 256 yang berbunyi 'Tidak ada pemaksaan dalam beragama'.

2017-05-15 15:29:55
Lukman Hakim Saifuddin
Advertisement

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak peserta kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke XIX untuk menghormati keragaman agama. Imbauan ini terkait dengan tindakan intoleransi yang belakangan marak terjadi di Tanah Air.

"Menghargai dan menghormati perbedaan bukan berarti kita membenarkan perbedaan apalagi mengimani, meyakini yang berbeda itu. Menghargai dan menghormati itu sebatas hormati yang berbeda," kata Lukman saat memberikan kuliah umum terkait deradikalisasi agama di kampus sebagai komitmen konsensus bernegara di Asrama Haji, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (15/5).

Lukman mengingatkan, Islam mengajarkan umatnya untuk menghargai perbedaan dan tidak memaksa kehendak orang lain dalam beragama sebagaimana tercantum dalam Quran Surah Al Baqarah ayat 256 yang berbunyi 'Tidak ada pemaksaan dalam beragama'. Oleh karena itu, tidak boleh ada pemaksaan dalam menyebarkan syariah Islam.

"Yang dituntut dari kita dalam beragama adalah menebarkan, mengajak, bukan memaksa orang untuk menjadi Islam. Tidak. Kalau orang menjadi Islam atau tidak itu persoalan hidayah saja. Itu domain Allah, otoritas Tuhan," ucapnya.

"Hidayah itu datangnya dari Allah bukan kita yang memutuskan. Kita sebatas menebarkan ajaran kebajikan, kita sebatas mengajak orang entah nanti dia mendapatkan hidayah atau tidak itu urusan Allah," sambungnya.

Realitas kini, kata Lukman, banyak umat yang berlebihan dalam berdakwah. Misalnya menganggap dirinya paling benar dan paling besar sehingga kerap melakukan kekerasan dalam berdakwah.

"Itu karena kita kadang-kadang melebihi ingin menjadi Tuhan itu sendiri. Kadang-kadang kita yang paling benar kemudian kita tergoda untuk menggunakan cara-cara kekerasan apalagi kalau kita merasa besar, merasa mayoritas, merasa menentukan segalanya. Maka kemudian menjadi eksesif," ujarnya.

Politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menegaskan, menghargai perbedaan tidak akan menggerus iman seseorang. Menghargai perbedaan malah memperkuat keimanan seseorang karena itulah bentuk nyata melaksanakan perintah agama.

"Justru karena keimanan saya muslim, saya dituntut menghargai menghormati orang lain yang berbeda dengan saya," tuntasnya.

Baca juga:
Agar ceramah di rumah ibadah tak bikin resah
Ketua MPR: Islam dan politik tak mungkin dipisahkan
Gus Solah sebut ke-Indonesiaan & ke-Islaman jangan dipertentangkan
300 Advokat gelar aksi anti SARA untuk keutuhan NKRI
Pemerintah dan PBNU teken MoU untuk perkuat toleransi umat
Djarot harap pendidikan Islam ajarkan kedamaian dan toleransi

Advertisement
(mdk/ded)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.