Memulihkan kesehatan pengungsi gempa & tsunami Palu
Memulihkan kesehatan pengungsi Palu. Pengobatan bagi penyintas gempa Palu, Donggala dan Sigi itu berlokasi di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Sekaligus menjadi posko utama bagi para tim dokter, perawat dan relawan.
"Badan saya tidak enak, dok." Begitu keluh ibu berkerudung merah itu. Wajahnya tampak lesu. Jalanya sedikit goyang. Lemas. Butuh dapat tindakan dari sang dokter.
Ibu itu diminta duduk. Berkonsultasi mengenai keluhan dideritanya. Sudah lima hari setelah gempa Palu, badannya merasa pegal linu. Kepalanya pusing. Terkadang suka menggigil.
Tinggal di pengungsian menjadi salah satu penyebabnya. Efek gempa sebesar 7,4 SR, masih menjadi trauma. "Saya juga masih takut kalau malam," ujar sang ibu itu.
Sang dokter memberikan obat pereda pusing. Sekaligus memberi suntikan vitamin C untuk kesehatan.
Sambil menggigit kerudung dan memejamkan mata, ibu berkerudung itu siap disuntik. Sang dokter mengangkat lengan baju kiri si ibu. Obat sudah dimasukkan ke alat suntik. Bersiap lakukan injeksi.
"Tahan dikit ya, Bu," ucap sang dokter pria itu.
Tak lama, jarum suntik sudah menembus lengan kiri atas pasiennya. Wajah ibu itu mengerenyit. Menahan rasa sakit. Proses pengobatan selesai. Tidak butuh lama. Mereka juga tidak dikenakan biaya.
Pengobatan bagi penyintas gempa Palu, Donggala dan Sigi itu berlokasi di Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tengah. Sekaligus menjadi posko utama bagi para tim dokter, perawat dan relawan.
Sederhana. Begitu penampakan ruang pemeriksaan bagi para pasien. Berada di luar ruangan. Di bawah pohon rindang. Hanya ada meja bulat dan tiga kursi untuk dokter dan pasien berkonsultasi.
Selain menjadi tempat pengobatan, posko itu juga menjadi gudang obat. Nantinya itu akan disalurkan ke Puskesmas maupun rumah sakit sekitar Palu.
Bukan hanya obat. Masyarakat sekitar juga bisa meminta kebutuhan lain. Seperti masker, sarung tangan maupun peralatan penanganan pertama.
Sudah lebih dari sepekan bencana gempa bumi menimpa tiga wilayah itu. Banyak penyintas sudah mengeluhkan macam-macam penyakit.
Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan Achmad Yurianto mengakui banyak warga mulai terserang influenza dan gangguan pencernaan. Mayoritas mereka terkena penyakit merupakan balita.
Khusus untuk balita, kata Achmad, mereka banyak terserang influenza. Ini disebabkan daya tahan tubuhnya belum sebaik orang dewasa.
Sedangkan penyakit gangguan pencernaan dialami orang dewasa dan anak-anak. Biasanya akibat keterbatasan air, buruknya sanitasi, dan kualitas makanan tidak sehat.
Dua penyakit ini harus segera diatasi. Bila dibiarkan justru menimbulkan masalah lebih berat. Misalkan Influenza, para pengungsi harus segera ditangani agar kondisi penderita tidak semakin parah dan berujung menjadi infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Sedangkan gangguan pencernaan, diharapkan bisa diselesaikan dengan memperbaiki sanitasi. "Solusinya bukan memberikan obat sebanyaknya, tapi selesaikan sanitasinya ini," Achmad menerangkan.
Bukan hanya dua penyakit itu saja. Ada masalah krusial juga harus segera diselesaikan. Banyak penyintas gempa dan tsunami gangguan kejiwaan. Dalam hal ini trauma.
Mereka masih stress. Takut untuk keluar maupun tidur di ruangan. Ditambah ada anggota keluarga hilang akibat bencana alam. Untuk itu, tim dokter disiapkan dari pelbagai macam ahli.
Selain dokter umum dan spesialis, juga diturunkan para psikiatris. Tentunya masalah kejiwaan ini juga harus didukung masyarakat sekitar. Pihaknya juga meminta agar para pengungsi lebih aktif untuk urusan kesehatan.
Baca juga:
Dinas Sosial Palu salurkan bantuan untuk korban gempa
Aktivitas mulai normal, warga Palu diimbau untuk tertib lalu lintas
4 Cosplayer hibur anak-anak pengungsi asal Sulteng di Makassar
Menteri Rini menangis saat beri penghargaan untuk keluarga Antonius
Golkar kirim tenda dan genset agar pengungsi Palu bisa berkomunikasi dengan keluarga