Mbah Munir, ahli falak yang kerap dapat pesanan kalender salat
Mbah Munir juga sering menjadi tutor di beberapa ponpes yang berada di sekitar wilayah Karesidenan Kedu.
Penampilannya biasa saja, tetapi sesungguhnya dia adalah ulama Nahdlatul Ulama yang juga pakar ilmu falak internasional. Nama lengkapnya Syech Misbachul Munir Alfalakiy (70) yang akrab dipanggil Mbah Munir. Dia sempat menjadi Lajnah Falakiyyah Pusat PBNU. Pada penentuan awal bulan Ramadan tahun ini, mempertanyakan hasil sidang isbat pemerintah. Meskipun ulama NU, dia mengawali puasa pada Jumat (19/7), berbeda dengan pemerintah dan NU yang mengawali puasa pada Sabtu (20/7)
Kegiatan sehari-hari Mbah Munir adalah mengasuh Pondok Pesantren Markazul Falakiyyah di Dusun Semali, Desa Salamkanci, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Selain sibuk mengajar santri di ponpesnya, Mbah Munir juga sering menjadi tutor di beberapa ponpes yang berada di sekitar wilayah Karesidenan Kedu ( Magelang, Wonosobo, Temanggung, Kebumen dan Purworejo). Terutama, untuk bidang ilmu falak.
Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit-khususnya bumi, bulan, dan matahari-pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi. Bahasan Ilmu Falak yang dipelajari dalam Islam adalah yang ada kaitannya dengan pelaksanaan ibadah.
Selain itu, kini Mbah Munir juga sering mendapatkan pesanan kalender atau penanggalan yang membubuhkan perhitungan salat lima waktu dalam berbagai bahasa dan negara di antaranya; Jawa, Arab, China, dan negara lainya. "Ya, banyak pesanan yang berdatangan ke saya," kata Mbah Munir saat ditemui merdeka.com di pesantrennya, Jumat (19/7).
Mbah Munir mengaku, selain dia ada kiai lain yang dikenal sebagai ahli falak. Mereka adalah KH Nur Ahmad dari Ponpes Kriyan, Jepara dan KH Mahfud Anwar dari Kediri. Namun, keduanya sudah berpulang.
Kiprah dan perannya sebagai ahli Falak sangat menonjol saat masa Orde Baru. Saat itu, Kementerian Agama dipegang langsung oleh Munawir Sadzali.
“Pak Munawir Sadzali itu dulu dengan saya akrab. Tetapi sekarang tidak pernah ada kabarnya. Sebab, zaman itu belum ada komputer. Setiap penetapan Ramadan dan Lebaran selalu minta pertimbangan dan masukan ke saya,” ungkap Mbah Munir.
Dia juga menyebut Ketua Umum PBNU KH Said Agil Siraj pada kesempatan pertemuan atau acara jika dirinya hadir, selalu menyempatkan diri untuk bertemu dan bertukar pengalaman. Terutama terkait ilmu falak dan hisab yang sudah menjadi makanan kesehariannya dengan puluhan santrinya di ponpes.
Mbah Munir berharap, proses sidang isbat tahun depan dalam menentukan suatu masalah yang bersifat khilafiyah harus didasarkan pada pedoman yang kuat. Mbah Munir mempertanyakan kenapa sidang isbat dilakukan hanya berdasarkan keputusan suara terbanyak. “Ini adalah masalah khilafiyah sehingga tidak bisa dan harus ada jalur jelas. Tidak bisa disatukan, semuanya itu tinggal keyakinanya masing-masing,” ujar Mbah Munir.