LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mbah Maridjan, juru kunci sampai mati

Tahun 1982, pria yang terkenal dengan kesederhanaannya itu mendapat amanah sebagai juru kunci oleh Sri Sultan HB IX.

2012-05-20 09:10:28
peristiwa
Advertisement

Sosok Mbah Maridjan sepertinya tak bisa dilepaskan dari Gunung Merapi. Pria dengan nama asli Mas Penewu Surakso Hargo ini adalah seorang abdi dalam Keraton Yogyakarta, yang bertugas sebagai juru kunci Gunung Merapi.

Peran pria kelahiran Dukuh Kinahrejo, Desa Umbulharjo, Cangkringan, Sleman, 5 Februari 1927 menjaga Gunung Merapi itu dimulai sejak tahun 1970. Saat itu Mbah Maridjan menjabat sebagai wakil juru kunci.

Namun, pada tahun 1982, pria yang terkenal dengan kesederhanaannya itu mendapat amanah sebagai juru kunci oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Mulai saat itu, setiap gunung Merapi akan meletus, warga sekitar Gunung Merapi selalu menunggu komando dari Mbah Maridjan untuk mengungsi. Pihak Kraton Yogyakarta kemudian memberinya gelar Raden Ngabehi Surakso Hargo.

Nama Mbah Maridjan mulai mencuat saat Gunung Merapi meletus pada 2006 lalu. Meski diminta meninggalkan Merapi oleh Sultan Hamengkubuwono X, Mbah Maridjan tetap tak mau mengungsi.

Saat itu, Mbah Maridjan mengaku tengah melaksanakan amanat yang diberikan mendiang Sultan Hamengku Buwono IX. Karena itu, tak seorang pun dapat memerintahkannya untuk mengungsi.

Sikap Mbah Maridjan itu menuai kecaman sekaligus pujian. Dia dipandang sebagai seorang pemberani dan orang yang loyal terhadap perintah mendiang Sultan Hamengku Buwono IX.

Selang empat tahun berjalan, Gunung Merapi kembali menunjukkan tanda-tanda akan meletus pada 2010. Sultan Hamengku Buwono X kembali membujuk Mbah Maridjan untuk mengungsi. Namun, sang juru kunci tetap pada pendiriannya, tak mau meninggalkan gunung yang dijaganya itu.

Kemudian pada 26 Oktober 2010, Gunung Merapi meletus. Kawasan tempat Mbah Maridjan tinggal disapu gulungan awan panas yang biasa disebut wedus gembel. Sang juru kunci akhirnya ditemukan tewas dalam keadaan sujud di dalam rumahnya.

Atas jasa-jasanya, Pemerintah Provinsi Yogyakarta menganugerahkan penghargaan Anugerah Budaya 2011, kategori pelestari adat dan tradisi. Posisi Mbah Maridjan sebagai juru kunci Gunung Merapi kemudian digantikan putranya yang bernama Asih.(mdk/war)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.