Masuk mesin waktu kreatif ala Banyumas
Pameran ini menjadi ajang mengingat kembali geliat dan pencapaian aktivitas kreatif yang pernah digelar di Banyumas dalam rentang 14 tahun. Poster-poster itu juga memberi sejumlah informasi dari pergeseran dan corak tempat-tempat kegiatan kreatif digelar, cara pembuatan poster sampai cara publikasi ke khalayak ramai.
Ratusan poster yang mendokumentasikan beragam aktivitas kreatif di berbagai tempat di Banyumas dipamerkan mulai Sabtu (9/9) sampai Selasa (19/9). Pameran ini menjadi ajang mengingat kembali geliat dan pencapaian aktivitas kreatif yang pernah digelar di Banyumas dalam rentang 14 tahun. Poster-poster itu juga memberi sejumlah informasi dari pergeseran dan corak tempat-tempat kegiatan kreatif digelar, cara pembuatan poster sampai cara publikasi ke khalayak ramai.
Pameran yang digelar di The Basement Purwokerto di Jl Prof Dr Suharso no 09 ini berhasil menghimpun lebih dari 200 poster. Poster-poster tersebut terkait dengan even musik, sastra, teater, diskusi keagamaan juga festival sampai pengumuman tentang album kompilasi band indie di Purwokerto. Pameran bertajuk Purwokerto Milestone (Poster Series) tersebut digagas oleh Muhamad Azmi, Jalom Noor dan Nurokhman Bagas secara kolektif.
Jalom Noor mengatakan dari ratusan arsip poster yang berhasil dikumpulkan, aktivitas kreatif yang paling mendominasi di Banyumas berkaitan event musik. Salah satu poster yang unik yakni Empty Space Journey tentang pengumuman bakal adanya perilisan album kompilasi band indie di Banyumas pada tahun 2011. Kenyataannya, sampai tahun 2017 saat ini, album kompilasi tersebut tak pernah muncul.
Poster lainnya, kata Jalom, juga menampilkan pergeseran cara pembuatan poster yang sebelumnya cetak dan tahun 2008 mulai bergeser ke digital. Hal ini berhubungan juga dengan cara publikasi yang sebelumnya dipasang di sebuah tempat atau ruang lantas beralih ke penyebaran melalui sejumlah media sosial yang juga mewakili kurun waktu tertentu semisal friendster, facebook, sampai twitter.
"Pameran ini bisa dilihat masyarakat secara gratis. Bagi saya, melihat poster-poster ini seperti masuk ke mesin waktu," kata Jalom pada Merdeka.com, Minggu (10/9).
Muhammad Azmi menambahkan dalam pameran ini nantinya juga akan dilakukan diskusi-diskusi untuk membaca hal-hal di balik poster. Berbagai sudut pandang coba diupayakan dengan melibatkan illustrator, akademisi, pegiat kreatif, juga pelaku yang terlibat dalam pembuatan poster yang dipamerkan. Harapannya dari berbagai analisa tentang poster terlihat bagaimana corak kegiatan kreatif dalam kurun waktu 14 tahun di Banyumas.
"Kami juga ingin mengkampanyekan pentingnya arsip. Dari kedisiplinan pengarsipan kita bisa menengok bagaimana kota tempat kita tinggal bergeliat atau sebaliknya justru sunyi sepi," kata Azmi yang akrab disapa Abe.
(mdk/noe)