Masjid Laweyan dan kisah persahabatan ulama dengan pandita
Masjid Laweyan masih mempertahankan beberapa ornamen Hindu pada bangunannya.
Jika Anda hendak mempelajari sejarah Kota Solo, khususnya perkembangan Islam, wajib mengetahui sejarah masjid tertua ini. Masjid Ki Ageng Henis, atau masyarakat Solo menyebutnya Masjid Laweyan, dibangun sekitar 1546 ini bukan hanya ikon masjid tertua.
Tempat itu menjadi saksi bisu sejarah penyebaran Islam di Jawa, khususnya di Kota Solo. Masjid Laweyan terletak di Jalan Liris Nomor 1, Kelurahan Pajang, Kecamatan Laweyan, dulunya adalah pura, tempat ibadah bagi umat Hindu. Meskipun beberapa kali mengalami pemugaran, tetapi di beberapa sudut masih tampak bagian bangunan yang menyiratkan ornamen Hindu.
Juru kunci makam Ki Ageng Henis yang juga takmir Masjid Laweyan, Adiyanto (62) membagi pengetahuannya soal sejarah bangunan itu. Pada masa kekuasaan Kerajaan Pajang di bawah pemerintahan Sultan Hadiwijaya, berdiri sebuah pura buat tempat peribadatan umat Hindu. Letaknya persis di lokasi masjid sekarang berdiri.
Selain sebagai penasehat spiritual raja, Ki Ageng Henis yang merupakan saudara sekaligus sahabat atau wakil Sultan Hadiwijaya, adalah seorang ulama besar Islam.
"Jadi menurut cerita yang saya ketahui, Ki Ageng Henis itu rajin melakukan dakwah. Dalam dakwahnya, beliau sering bertemu dengan seorang pendeta Hindu di sebuah pura Laweyan. Mereka akhirnya bersahabat dan saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing. Namun, akhirnya pendeta tersebut tertarik mempelajari Islam, dan kemudian menjadi seorang mualaf," ujar Adiyanto, saat ditemui merdeka.com, Jumat (24/6) lalu.
Usai memeluk Islam, pendeta itu menyerahkan pura kepada Ki Ageng Henis buat dijadikan masjid. Saat itu, masjid masih berbentuk musala juga berfungsi sebagai pusat perkembangan Islam, tempat musyawarah, dan perundingan.
Hingga saat ini, masjid kemudian dinamai Masjid Laweyan digunakan buat kegiatan seperti masjid pada umumnya. Di belakang masjid merupakan bangunan cagar budaya itu terdapat makam Ki Ageng Henis.
Adiyanto menambahkan, Ki Ageng Henis adalah anak dari Ki Ageng Selo. Sedangkan Raja Pajang, Sultan Hadiwijoyo, adalah anak dari Ki Kebo Kenongo. Ki Ageng Selo dan Ki Kebo Kenongo masih memiliki hubungan saudara yang cukup dekat, dan masih trah Raja Brawijaya V. Sebelum menjadi kerajaan, Pajang masih berbentuk kabupaten di bawah kekuasaan Kerajaan Demak. Kala itu, Hadiwijoyo bernama Joko Tingkir atau Mas Karebet menjadi menantu Sultan Trenggono yang memimpin Kerajaan Demak.
"Setelah kepemimpinan Sultan Trenggono, pemerintahan Kerajaan Demak dipindah ke Pajang yang kemudian menjadi kerajaan. Joko Tingkir kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Hadiwijoyo, dan Ki Ageng Henis menjabat sebagai patih," ucap Adiyanto.
Salah satu daya tarik di Masjid Laweyan adalah konstruksi bangunan yang menyerupai Pura, meskipun beberapa kali mengalami pemugaran. Terakhir dilakukan oleh Raja Surakarta, Paku Buwono X. Sehingga saat ini masjid menjadi lebih besar dengan daya tampung sekitar 400 jamaah.
"Dulu atapnya sirap, sekarang genteng. Dulu dindingnya pasir dan kapur, sekarang sudah semen," kata Adiyanto.
Masjid Laweyan berdiri di atas tanah seluas kurang lebih 162 meter persegi, di Kelurahan Pajang, Laweyan, Solo. Lokasinya berdampingan dengan Sungai Jenes. Sungai itu dulu digunakan para saudagar atau pedagang batik sebagai sarana transportasi menuju Bengawan Solo. Sungai Jenes bermuara di Sungai Bengawan Solo dulu juga menjadi urat nadi perekonomian Kerajaan Pajang.
"Ada bandarnya yang menjadi tempat tambatan perahu yang diberi nama Bandar Banaran. Kampung Batik Laweyan itu dulu ladang yang ditanami kapas. Nama Laweyan itu berasal dari kata Lawe, yaitu kapas yang dipintal menjadi benang untuk bahan pakaian. Lokasi itu kemudian makin berkembang menjadi tempat tinggal para bangsawan dan juragan kain," lanjut Adiyanto.
Di kota ini, Islam berkembang cukup pesat karena dakwah Ki Ageng Henis dilakukan secara santun dan lemah lembut. Sehingga mampu mengikat hati masyarakat pada masa itu. Masjid ini juga dilengkapi beduk dan kentongan usianya ratusan tahun. Sisa bangunan paling tua adalah 12 tiang utama masjid terbuat dari kayu jati.
"Selain menjadi tempat ibadah, Masjid Laweyan juga banyak dikunjungi orang yang akan berziarah ke makam Ki Ageng Henis. Tiap malam juga banyak yang ke sini untuk salat dan i'tikaf," tutup Adiyanto.(mdk/ary)