Mantan teroris beberkan jurus jitu sadarkan pelaku teror
Program deradikalisasi terhadap pelaku teror harus ditingkatkan untuk mengikis terorisme di Indonesia. Sejauh ini program tersebut sudah berhasil, meski harus diakui masih ada yang kembali ke paham radikal.
Program deradikalisasi terhadap pelaku teror harus ditingkatkan untuk mengikis terorisme di Indonesia. Sejauh ini program tersebut sudah berhasil, meski harus diakui masih ada yang kembali ke paham radikal.
Mantan teroris, Khairul Ghazali menilai hanya segelintir kelompok yang masih mendukung radikalisasi sehingga kembali ke pemahaman jihad yang salah. Mantan pelaku teror dan perampokan Bank CIMB Medan ini menilai langkah pemerintah merangkul para mantan kombatan untuk membantu program deradikalisasi juga cukup efektif
"Deradikalisasi yang dijalankan selama ini saya rasa sudah cukup bagus. Buktinya banyak para ikhwan yang dulunya radikal sekarang menjadi moderat," katanya dilansir dari Antara, Minggu (19/3).
Menurutnya, orang telah terkena ideologi kekerasan akan sulit didekati oleh orang di luar kelompok mereka. "Salah satu kunci deradikalisasi itu ialah kita harus dekat dengan mantan-mantan pelaku teror itu. Harus dekat dan harus dengan hati. Tidak bisa dengan argumentasi, mereka itu bukan orang yang perlu dinasihati," ungkap Khairul.
Pendekatan lebih bagus lagi, tegas Khairul adalah pendekatan ekonomi, bukan ideologi. Dari ekonomi baru ini nanti tensi ideologi mereka akan menurun. "Kenapa? Mereka melihat negara memperhatikan, negara memperhatikan anak-anaknya, negara memperhatikan istri dan keluarganya. Dengan begitu mereka akan melunak, apalagi bila kondisi perekonomiannya juga baik," terang Khairul.
Pria yang kini aktif membangun pesantren untuk anak-anak korban terorisme di Deli Serdang, Sumatera Utara ini mengatakan para mantan teroris setelah menjalani hukuman pasti butuh pekerjaan agar tidak kembali ke jalan salah. Karena itu mereka harus dilatih keterampilan.
Dalam hal ini, BNPT sebagai koordinator penanggulangan terorisme di Indonesia bisa bekerjasama dengan lembaga-lembaga lain untuk melatih. BNPT bisa bekerjasama dengan dinas sosial, pemerintah provinsi, kota/kabupaten di mana mantan teroris itu berada, untuk memantau dan terus mengarahkan mereka.
"Langkah ini harus cepat. Hari itu mereka dibebaskan maka hari itu juga sudah mulai diperhatikan," saran Khairul.
Khairul mengapresiasi langkah Kepala BNPT Komjen Suhardi Alius dengan program deradikalisasi dari hulu ke hilir. Menurutnya, apa yang dilakukan sudah bagus.
"Mereka (mantan teroris) itu adalah manusia biasa yang punya hati. Seperti yang saya katakan tadi jangan dikhotbahi macam-macam. Setelah keluar dari penjara mereka jangan distigmakan atau dikucilkan, juga keluarga dan anak-anaknya harus dibantu ekonominya."
"Setelah itu baru pelan-pelan kita ubah ideologinya. Ini adalah pendekatan yang dilakukan pak Suhardi Alius. Pendekatan seperti ini sudah dari dulu saya lakukan dan sekarang saya wujudkan dengan membangun pesantren ini," tambahnya.
Khairul mencontohkan dengan memberi pendidikan gratis pada anak-anak pelaku tindak pindana terorisme, ia optimis suatu saat nanti anak-anak itulah yang justru bisa menyadarkan orangtuanya, terutama tentang pemahaman jihad yang salah.
Dia berharap ke depan, negara lebih masif dan hadir dalam program deradikalisasi. Ia mengungkapkan masih ada sekitar 600-an mantan teroris yang sudah keluar Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) dan 200-an masih di dalam Lapas.
"Mereka harus didekati dengan hati. Dicari posisinya berada, dibantu ekonominya, dilatih skill-nya. Begitu juga keluarganya, anak-anaknya yang terlantar pendidikannya negara harus hadir. Jangan ada pembiaran terhadap mantan-mantan ini, atau orang-orang yang sudah terkena virus radikalisme," tandasnya.(mdk/did)