LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Mantan Kepala BNPT Sampaikan 4 Indikator Radikalisme Negatif, Harus Dihilangkan

Penguatan nasionalisme dan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan untuk mengikis maraknya adu domba dan hoaks.

2021-06-16 15:20:00
Terorisme
Advertisement

Penguatan nasionalisme dan wawasan kebangsaan harus terus dilakukan untuk mengikis maraknya adu domba dan hoaks. Dengan begitu diyakini radikalisme berkonotasi negatif serta terorisme akan hilang.

Mantan Kepala BNPT Komjen (Purn) Suhardi Alius mengatakan, radikalisme dalam perspektif negatif ada 4 indikatornya, yaitu intoleransi, anti-Pancasila, anti-NKRI dan penyebaran paham takfiri (mengkafirkan orang). Untuk itu soal nasionalisme harus terus disosialisasikan pada generasi muda agar tidak mudah terpapar.

"Kalau masuk klasifikasi ini harus kita kikis, kita reduksi dan hilangkan," kata Suhardi dalam keterangannya, Rabu (17/6).

Advertisement

Suhardi mencontohkan implementasi penguatan nasionalisme dan wawasan kebangsaan itu dengan kembali mengadakan upacara bendara dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya serta pembacaan Pancasila.

"Inilah salah satu yang membuat karakter bangsa dengan baik, kalau tidak dilakukan itu akan hilang. Sekarang generasi muda kita banyak yang tidak hafal Pancasila, lagu Indonesia Raya, itu tidak bisa disalahkan karena kurikulumnya sudah seperti itu," jelas Suhardi.

Ia mengungkapkan, saat ini generasi muda menjadi sasaran empuk penyebaran paham-paham tersebut disamping masyarakat umum lainnya. Faktanya, media sosial sekarang dipenuhi dengan berbagai macam hoaks dan adu domba. Ironisnya, kondisi ini dimanfaatkan kelompok-kelompok radikal intoleran untuk memcah belah masyarakat.

Advertisement

Mantan Kabareskrim Polri ini menilai, saat ini budaya saring sebelum sharing generasi muda dan masyarakat sangat rendah. Akibatnya mereka menelan begitu saja berbagai informasi karena tidak punya kemampuan memverifikasi dan memfilter pesan-pesan yang masuk.

"Kalau yang sudah berpendidikan cukup intelektual kan akan berpikir saat menerima informasi benar atau tidak, tetapi untuk yang golongan menengah kebawah termasuk yang tidak punya pemahaman itu, hal itu akan dianggap menjadi suatu kebenaran. Ini yang berbahaya, mereka bisa menyebarkan kembali informasi yang diterima yang padahal belum tentu kebenarannya," tuturnya.

Terkait fenomena terorisme akhir-akhir ini, Suhardi menilai saat ini sel-sel terorisme kembali muncul. Menurutnya, meskipun kelompok-kelompok terorisme di Indonesia sudah dilarang, namun mereka ingin menunjukan eksistensinya. Oleh sebab itu kewaspadaan harus tetap dijaga.

"Mereka tidak terdata tapi sekarang muatan-muatan baru muncul seperti yang di Makassar. Sebenarnya itu tidak masuk dalam daftar kita tetapi sebarannya sudah seperti itu. Hal itu menjadi kewaspadaan kita semua, tidak mungkin kita menyelesaikan masalah tanpa keterlibatan semua pihak," katanya.

Ia berharap, BNPT dan seluruh stake holder yang ada terus melakukan penguatan dan sosialisasi nasionalisme, wawasan kebangsaan, moderasi beragama, dan berbagai hal untuk mencegah penyebaran radikalisme negatif dan terorisme.

"Semua kementerian, dari semua institusi negara, semua bidang bidang pendidikan bisa memonitor dan memberikan masukan, dan bagaimana melaporkan hal hal yang tidak lazim yang ada di sekeliling kita untuk pencegahan. Mudah mudahan ini bisa kita antisipasi dengan baik," tandasnya.

(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.