Mampu jaga kerukunan umat, Kemenag beri penghargaan bupati Tabanan
Penghargaan Harmony Award merupakan apresiasi dan penghargaan dari Kemenag atas kontribusi dan inisiatif pelbagai pihak dinilai berhasil memelihara dan memfasilitasi kegiatan umat beragama.
Kementerian Agama memberikan penghargaan Harmony Award atau Anugerah Kerukunan Umat Beragama kepada Bupati tabanan Bali, Ni Putu Eka Wiryastuti. Penghargaan ini juga diperoleh beberapa kepala daerah dianggap berkontribusi luar biasa memberikan pelayanan kerukunan umat beragama.
"Tidak hanya dalam pencapaian target Kemenag tahun lalu, tapi juga dalam mengembangkan dan menjalankan misi Kemenag (Kementerian Agama) dalam menjaga kehidupan keagamaan," kata Lukman dalam keterangannya, Senin (27/2).
Penghargaan Harmony Award merupakan apresiasi dan penghargaan dari Kemenag atas kontribusi dan inisiatif pelbagai pihak dinilai berhasil memelihara dan memfasilitasi kegiatan umat beragama. Penilaian dilakukan Badan Penelitian dan Pengembangan Kemenag dengan mengacu pada berbagai aspek, di antaranya dukungan anggaran dan dukungan kebijakan Pemerintah Daerah.
Sementara itu, Eka Wiryastuti mengaku sangat bersyukur dan berbahagia jika dirinya dinilai berhasil dalam menjaga kerukunan umat beragama di Tabanan. "Saya di sini mewakili seluruh rakyat Tabanan, sangat bersyukur dengan penghargaan ini, di mana artinya kita berhasil memberikan aura positif untuk kerukunan umat beragama, di mana kerukunan umat beragama adalah kunci, modal, serta pondasi dari segala harapan dan cita-cita umat untuk mencapai kesuksesan pembangunan," ujar Eka.
Bupati Eka meyakini, wilayah Tabanan selalu menjaga kerukunan dengan bersilaturahmi demi menjaga perdamaian. Selain itu juga kerap membahas semua masalah dengan adanya komunikasi dan silaturahmi. "Maka setiap ada masalah kita cari solusinya bersama dan menyelesaikannya lebih dini, sehingga bukan menabung masalah yang kemudian menjadi besar, dan akhirnya memecah kerukunan," ungkapnya.
Bupati Eka sendiri mengaku bangga dengan rakyat Tabanan, dinilainya sangat mengerti akan tujuan dan pengertian kerukunan itu sendiri. "Jadi bukan karena agama kita berbeda, kemudian kita menjadi berbeda pula, justru dengan adanya perbedaan tersebut harus dilihat sebagai hal yang indah, dan jangan hanya dilihat perbedaannya tapi lihatlah kesamaannya, sebab jika hanya mengedepankan perbedaan, tidak akan pernah ada kerukunan, karena agama harus kita jadikan benteng pemersatu dan keeratan antar umat beragama, karena kita semua hakikatnya bersaudara," ujarnya.
"Sekarang saya melihat agama kerap dijadikan alat dan dipolitisasi, hal seperti itu tidak pernah saya terima di Tabanan, karena agama harus kita jaga, seperti halnya budaya, jangan sampai memecah belah kita," tegasnya.(mdk/ang)