Makanan dan benda ini harus ada di ritual Sekaten di Surakarta
Kebiasaan atau tradisi tersebut hanya dilakukan saat puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad.
Perayaan Sekaten di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat selalu diikuti sejumlah tradisi atau ritual lainnya. Kebiasaan atau tradisi tersebut hanya dilakukan saat puncak perayaan Maulid Nabi Muhammad ala keraton atau sering disebut dengan Grebeg Maulud. Di sekitar halaman Masjid Agung atau Alun-alun Utara Keraton banyak dijumpai pedagang yang menjual kinang. Kinang adalah racikan daun sirih, gambir, kapur dan tembakau. Hingga sekarang masih banyak warga yang percaya bahwa nginang atau mengunyah sirih seraya mendengarkan gamelan Sekaten, akan awet muda, karena mengunyah sirih dapat untuk menguatkan gigi. Endhog abang atau telur merah atau telur asin juga selalu menyertai perayaan Sekaten. Banyak penjual telur dadakan, hanya pada perayaan Sekaten. Telur ini dibuat dari telur bebek yang diwarnai merah dengan batu bata dan garam, sehingga warnanya asin. Menurut cerita, nasi gurih adalah jenis makanan yang disukai Nabi Muhammad SAW, yaitu makanan yang gurih. Di Arab Saudi, konon agar makanan terasa gurih, maka dimasak dengan menggunakan minyak mamin. Pecut atau cemeti atau cambuk merupakan sarana untuk menghela hewan ternak. Bukan untuk menyakiti hewan ternak, namun untuk membangkitkan semangat hewan ternak seperti sapi dan kerbau, yang digunakan untuk bekerja di sawah.
Selain pasar malam dengan pertunjukan modern maupun daerah, berbagai dagangan khas juga dijual. Namun dari berbagai ritual tersebut beberapa diantaranya sudah menjadi tradisi turun menurun, diantaranya, Kinang, Endog Abang, Nasi Gurih dan PecutKinang
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Winarno Kusumo mengatakan nginang dalam sekaten mengandung makna tersendiri. Ketika nginang, maka bibir akan berwarna merah.
"Ada maknanya sendiri bagi masyarakat Jawa, merah itu mengandung makna berani. Ada sebagian lagi yang mengatakan warna merah melambangkan kesucian. Nginang saat Sekaten dapat berarti harus berani mengatakan hal-hal yang benar, mengucapkan syahadat, memeluk agama Islam sebagai agama suci," katanya.
Pantauan merdeka.com, begitu gamelan ditabuh, ratusan masyarakat yang memadati halaman Masjid Agung, seperti dikomando untuk nginang dan makan telur asin bersama-sama. Sebelumnya, saat pagi hari mereka sudah melakukan persiapan, membeli kinang dan telur asin (endog merah/abang) di halaman masjid.
"Satu paket kinang yang berisi daun sirih, bunga kantil, tembakau, dan injet (batu kapur) saya jual seharga Rp 1 ribu hingga Rp 2 ribu. Dari pagi sudah banyak yang beli. Kalau gamelan ditabuh, masyarakat akan nginang bareng-bareng. Masyarakat percaya kalau nginang, katanya umurnya bisa panjang dan sehat terus," kata Ibu Hadi, penjual Kinang asal Donohudan, Boyolali.Endok abang
"Telur yang merah ini melambangkan nafsu amarah. Ketika kulit dikupas akan tampak warna putih dan kuning. Maka setelah menghadiri Sekaten dengan mengucapkan Syahadat, harus dapat mengesampingkan nafsu amarah, menuju ke kesucian," ujar Bu Suparto, salah satu penjual telur, warga Gedangan, Solo Baru.Nasi gurih
Di Sekaten tradisi memakan nasi gurih hingga kini masih terpelihara. Namun nasi gurih di Sekaten berwujud nasi liwet, makanan khas Kota Solo. Nasi ini terbuat dari beras yang diseduh dengan santan, sehingga rasanya gurih. Nasi asal daerah Baki, Sukoharjo, selatan Kota Solo ini, disajikan dengan pincuk (piring daun pisang) dengan campuran telur ayam, daging ayam dan sambal goren ditambah kumut (ampas santan).
Sama seperti kinang atau telur merah, banyak pedagang dadakan menjual nasi gurih (nasi liwet). Mereka rata-rata berasal dari Desa Menuran dan Desa Duwet di Kecamatan Baki, Sukoharjo.
"Biasa mas jualannya cuma setiap tahun, tiap ada sekaten saja. Lumayan, bias buat nambah jajan anak-anak. Satu pincuk pakai telur dan suwiran (ayam suwir) saya jual Rp. 10 ribu," ujar Sudarmi, penjual nasi liwet asal Menuran, Baki.Pecut
Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, KP Winarno Kusumo mengatakan pecut atau cemeti merupakan lambang agar manusia dapat mengendalikan nafsu hewani, untuk meniti jalan kebenaran.
"Tradisi ini meniru sejarah Pangeran Mangkubumi pada masa silam, ketika beliau dimintai pertolongan rakyat yang sawahannya diserang hama. Beliau menyanggupi dan langsung mengusir hama dengan menggunakan sarana pecut atau cemeti pusaka Kyai Pamuk, tentu saja disertai dengan permohonan doa kepada Allah SWT," katanya.
"Saya jualan pecut di Sekaten sudah 15 tahun mas. Mulainya ya kalau gamelan mau keluar begini. Tiap hari paling laku 10 sampai 20. Harga yang kecil Rp. 10 ribu, yang agak besar Rp. 25 ribu, yang paling bagus pecut Cethoran Jaran Kepang harganya Rp. 40 ribu," ujar Parjo (74), penjual pecut warga Kodipan Delanggu, Klaten.