Makan bersama, tradisi rutin buat hormati leluhur saat Imlek
"Semua makanan favorit sampai kalau mendiang suka merokok, kita juga siapin."
Ketua Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DKI Jakarta Ellen Hidayat punya cerita tersendiri soal tradisi imlek. Dari mulai persiapan makanan, minuman, sampai pernak-pernik tahun baru imlek bakal disajikan penuh dengan filosofinya tersendiri.
Lahir dengan latarbelakang keluarga Tionghua, Ellen selalu mengutamakan penghormatan leluhur dalam setiap tahun merayakan tahun baru Cina. Dalam prosesi sembahyang sampai adanya ritual makan bersama dengan arwah para orang tua, saudara, kerabat maupun orang yang sudah meninggal dunia jadi simbol perayaan.
"Jadi kita pasti rayain sehari sebelum imlek. Ada siapin meja buat sembahyang kita sedian semua makanan favorit sampai kalau mendiang suka merokok, kita juga siapin semuanya. Apa saya kesukaan para leluhur kita siapin, kita buat suasana makan bersama bareng para leluhur yang sudah meninggal," katanya saat berbincang kepada merdeka.com, Jakarta, Sabtu (6/2).
Ellen menuturkan dari setiap pernak-pernik memiliki makna yang terkandung dan harapan buat setiap pemeluk yang meyakininya. Apalagi, menurut dia dari bahan, bentuk, rasa, sampai khasiat makanan yang disajikan dalam imlek mampu membawa harapan bagai setiap orang yang ikut merayakannya.
"Buat makanan kita punya yang wajib, seperti kue keranjang, kue mangkok, kueku, dan kue wajik harus ada, soalnya dari artinya merekatkan hubungan saudara, itu kenapa harus wajib ada, soalnya bahannya lengket pakai tepung," ujar Ellen.
Dia menjelaskan dari bentuknya yang besar, kue mangkok mempunyai arti usaha atau perkembangan bisnisnya harus baik. Ditambah, dengan rasa yang rata-rata manis, hal itu merupakan pengharapan kehidupan yang baik atau manis dalam segi apapun.
"Rata-rata kuenya rasa manis. Kita hidup manis dalam segala hal," ujarnya.
Buat makanan, ada beberapa daftar makanan wajib, seperti ikan yang disajikan utuh, sayur sawi putih, gorengan bakso, maupun mie harus tersedia ketika santapan makan malam pada malam perayaan imlek.
"Terutama sawi putih kita harus makan tanpa dipotong, satu lembar harus masuk dan dikunyah dalam mulut sekaligus, artinya supaya kita diberi kebaikan dan kelancaran serta kemudahan setiap harinya," katanya.
Berbeda lagi dengan mie yang punya bentuk memanjang. Ellen mengaku mie merupakan simbol kesehatan dan umur panjang. "Saya punya ibu sekarang berumur 92 tahun, saya selalu bersama-sama rayakan imlek," katanya.
Terakhir, Ellen menambahkan, tak lupa dengan tradisi bagi-bagi rezeki melalui angpau. Menurut dia, anggaran untuk tradisi itu mampu mencapai Rp 15 juta buat dibagikan pada kerabat, saudara, maupun orang-orang terdekat sesuai dengan kemampuan si penerima.
"Kita kayak THR saja, buat karyawan saya seperti asisten rumah tangga, satpam dan keluarga dekat punya angpau sendiri-sendiri. Tergantung open housenya juga. Ini sih buat bagi-bagi rezeki saja, kalau kayak di agama islam seperti sedekah lah yah, dari yang tua sampai yang muda," katanya.
Untuk tempat pembelian pernak-pernik tak ada tempat khusus bagi Ellen. Menurutnya sekarang ini hampir di setiap tempat sudah ada yang menjual. "Di mana-mana sudah ada, gampanglah itu mah, pasar banyak," kata dia.(mdk/ang)