Mahasiswa PTS di Yogyakarta ditemukan tewas gantung diri pakai sabuk
Penjaga di tempat kos korban, Paino menerangkan tak ada tanda-tanda depresi atau stres pada korban. Korban, lanjut Paino beraktivitas seperti biasa dan nampak tak punya masalah. Bahkan korban masih nampak sering berkumpul bersama temannya di kos.
Seorang mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta (PTS) di Yogyakarta ditemukan tewas gantung diri di kamar indekosnya di Gang Jeruk, Jalan Kaliurang km 5,5, Karangwuni, Depok, Sleman, Rabu (4/10). Mahasiswa berinisial YS ini ditemukan tewas pertama kali oleh rekan kosnya, Eka sekitar pukul 12.00 WIB.
Mengetahui rekannya tewas gantung diri, Eka pun langsung melaporkan kasus ini ke Polsek Bulaksumur. Tak lama berselang, pihak kepolisian pun mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP.
Kanit Reskrim Polsek Bulaksumur Iptu Eka Andi menerangkan jika pihaknya masih menyelidiki motif bunuh diri mahasiswa berumur 21 tahun itu. Beberapa saksi, kata Andi sudah dimintai keterangan dan olah TKP sudah dilakukan.
"Korban merupakan warga Kecamatan Sugio, Lamongan, Jawa Timur. Korban ditemukan pertama kali oleh rekannya," papar Andi.
Andi menceritakan jika korban YS ditemukan Eka saat akan mengambil laptop di kamar kos korban. Saat Eka mengetuk-ketuk kamar kos milik mahasiswa berumur 21 tahun itu tak ada jawaban. Eka pun kemudian memberanikan diri masuk ke kamar korban yang tak terkunci.
"Saksi masuk ke kamar kos korban sekitar pukul 11.30 WIB. Korban ditemukan tewas gantung diri dengan menggunakan ikat pinggang di ventilasi kamar mandi," ujar Andi.
Terpisah, penjaga di tempat kos korban, Paino menerangkan tak ada tanda-tanda depresi atau stres pada korban. Korban, lanjut Paino beraktivitas seperti biasa dan nampak tak punya masalah. Bahkan korban masih nampak sering berkumpul bersama temannya di kos.
"Kemarin masih ketemu. Dia masih kumpul-kumpul sama temannya. Orangnya sopan. Sebelum gantung diri tidak ada tanda-tanda sedang stres ataupun depresi," urai Paino.
Saat ini jenazah korban tengah diperiksa di RS Bhayangkara untuk dilakukan visum. Visum dilakukan untuk membuktikan apakah ada tanda-tanda kekerasan pada korban atau memang murni bunuh diri.
"Murni bunuh diri atau bagaimana, nanti akan ketahuan setelah ada visum," tutup Andi.(mdk/ded)