Mahasiswa IPB yang Meninggal dalam Ekspedisi di Papua dapat Gelar Sarjana Pertanian
Sebelum berangkat ke Papua, Anggit telah menyelesaikan skripsi dan kini berada di semester sembilan.
Institut Pertanian Bogor (IPB) University memberikan gelar Sarjana Pertanian (S.P.) kepada almarhum Anggit Bima Wicaksana, anggota Tim Ekspedisi Patriot (TEP), yang meninggal saat melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi Bomberay, Tomage, Kabupaten Fakfak, Papua Barat pada Selasa, 21 Oktober 2025. Sebelum berangkat ke Papua, Anggit telah menyelesaikan skripsinya dan berada di semester 9.
"Mencermati prestasi dan catatan akademik yang ada, maka pada kesempatan ini saya sampaikan bahwa Saudara Anggit Bima Wicaksana kami nyatakan lulus sebagai sarjana," ungkap Rektor IPB, Arif Satria.
Selama menempuh pendidikan di IPB, almarhum Bimo, panggilan akrabnya, dikenal sebagai sosok yang aktif, menjabat Ketua Angkatan Ilmu Tanah 58, serta terlibat dalam Badan Pengawas HMIT, Koordinator Lapangan Fakultas Pertanian, dan Asisten Praktikum pada Praksis Survei, Pemetaan, dan Evaluasi Lahan. Selain itu, Bimo juga menjabat sebagai Koordinator TEP dari IPB University.
Sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi dan prestasinya, Rektor IPB mengundang orang tua almarhum untuk hadir dalam acara wisuda yang dijadwalkan pada 29 Oktober 2025 di kampus IPB, Bogor, guna menerima ijazah atas nama putra mereka.
"Kami ingin mengundang kedua orang tua beliau untuk menerima ijazah atas nama almarhum, bersama dengan teman-teman lain yang telah menuntaskan tugas akademiknya," tambahnya.
Menteri Transmigrasi memberikan tanggapan
Kementerian Transmigrasi memberikan apresiasi terhadap keputusan Institut Pertanian Bogor (IPB) University yang telah menganugerahkan gelar sarjana kepada almarhum Anggit Bima Wicaksana. Pemberian gelar kehormatan ini merupakan pengakuan atas dedikasi, usaha, dan pengabdian almarhum yang telah memberikan kontribusi signifikan bagi pembangunan transmigrasi serta kesejahteraan masyarakat di daerah terpencil.
"Insyaallah nanti almarhum, Saudara Anggit Bima Wicaksana juga akan diberikan gelar sarjana pertanian dan insyaallah nanti pada bulan ini akan dilaksanakan wisuda. Dimohon kepada kedua orang tua juga untuk bisa hadir," ujar Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara dalam penjelasannya. Pemberian gelar ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk terus berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.
Kecelakaan saat naik motor
Wakil Rektor 3 yang membawahi Bidang Riset, Inovasi, dan Pengembangan Agromaritim IPB, Ernan Rustiadi, mengungkapkan bahwa almarhum Anggit merupakan bagian dari 228 mahasiswa dan alumni IPB yang terlibat dalam program Tim Ekspedisi Patriot (TEP).
"Saudara Anggit adalah salah seorang yang terpanggil, beliau anak Jakarta dari Bintaro dan sangat bersemangat untuk terpanggil untuk ikut melaksanakan tugas di Kabupaten Fakfak, Papua Barat jadi sudah 2 bulan di sana," jelas Ernan saat menunggu kedatangan almarhum Anggit di Bandara Halim Perdanakusuma pada Rabu (22/10/2025).
Anggit menjabat sebagai koordinator dalam kelompok riset yang terdiri dari empat orang. Ernan juga menjelaskan tentang kronologi kecelakaan yang dialami Anggit saat menjalankan tugasnya. Kecelakaan tersebut terjadi ketika Anggit mengendarai sepeda motor bersama seorang teman laki-lakinya di tengah hujan.
"Jadi satu grup itu empat orang dan saudara Anggit itu adalah koordinatornya dan mungkin karena cuaca, dua orang perempuan diminta untuk tinggal di tempat, yang bersangkutan bersama seorang teman laki-lakinya akhirnya yang bertugas lah berkunjung. Tetapi tampaknya cuaca hujan dan mengalami kecelakaan. begitu ceritanya," ungkap Hernan.
Dari informasi yang diperoleh, Anggit sedang mengendarai motor bersama rekannya, Andra. Keduanya berada di tikungan ketika motor yang mereka kendarai tiba-tiba tergelincir akibat rem mendadak. Motor tersebut terpeleset, dan Anggit serta Andra terpental ke arah yang berbeda. Setelah terpental, sebuah truk pengangkut sawit melintas dari arah berlawanan dan diduga terlibat dalam insiden tersebut.
"Jadi Anggit itu yang pegang kendaraan, boncengan lalu yang Andra namanya ya Andra itu dua-duanya kelihatannya ada di satu tikungan. Katanya terus terpeleset, rem mendadak, terpeleset dan terpental ke dua arah yang berbeda tapi Anggit ke kanan terus yang dibonceng terlempar ke kiri. Setelah terlempar ke kanan, katanya ada truk sawit dari arah berlawanan," jelas Ernan.
Andra, teman Anggit yang juga terlibat dalam kecelakaan tersebut, berhasil selamat dan kini menjadi saksi utama dalam proses penyelidikan yang dilakukan oleh pihak kepolisian.