Lukisan Sokaraja yang terhempas dan putus
Lukisan pemandangan hutan belantara disepuh warna keemasan teronggok di warung kelontong berdinding kayu. Berukuran 2 x 1 meter. Lukisan itu layaknya potret lanskap alam bersudut lebar. Di sisi kiri, lukisan tiga pohon dibuat dengan teknik pallet.
Lukisan pemandangan hutan belantara disepuh warna keemasan teronggok di warung kelontong berdinding kayu. Berukuran 2 x 1 meter. Lukisan itu layaknya potret lanskap alam bersudut lebar. Di sisi kiri, lukisan tiga pohon dibuat dengan teknik pallet. Memberi aksentuasi pada unsur bidang. Sedang di sisi kanan, lukisan sungai dan latar belakang rerumputan baru sebatas mendapat sapuan kuas warna dasar.
Lukisan itu dibuat oleh jemari terampil Sugeng Wibowo. Ia belum sempat membubuhkan tanda tangan dan tahun pembuatan sebagai penjamahan terakhir di lukisannya. Sugeng keburu meninggal tahun 2015 silam. Di usia 62 tahun.
Putra Sugeng, Alex Andiwijaya (39) menyimpan lukisan tak rampung itu sebagai kenangan. Dalam benaknya, lukisan sang ayah merupakan pergulatan luapan kreativitas dan emosi di atas kanvas yang mengabadi. Itu sebabnya, meski Alex juga seorang pelukis, ia tak pernah berniat menyelesaikan lukisan terakhir karya ayahnya.
Pertalian darah yang mengalir di tubuh keluarga Alex memang diikat kuat oleh seni rupa. Kakeknya, Ahmad Sarbini Biis, merupakan salah satu pelukis tenar di wilayah Sokaraja, Kabupaten Banyumas. "Sudah 21 tahun saya melukis. Mengembangkan teknik pallet yang diajarkan oleh ayah. Tapi saya merasa belum pernah sempurna," katanya saat ditemui merdeka.com di kediamannya.
Alex bercerita di wilayah Sokaraja, utamanya di kampung Pejagalan, dahulu dikenal sebagai 'kampung pelukis'. Lukisan-lukisan Sokaraja tersohor khas membentangkan lapis panorama pedesaan di lereng Gunung Slamet. Lukisan yang umum dibuat membentangkan hamparan sawah, sungai dan gunung di kolong langit biru.
Pernah ada zamannya lukisan Sokaraja begitu digandrungi oleh khalayak ramai. Tapi di tahun 1990-an, masa keemasan itu berlalu. Lukisan Sokaraja lantas terhempas tak diminati. Putus, nyaris tanpa penerus.
"Saya memang tetap bertahan melukis. Ingin nguri-nguri (merawat) kesenian turun-temurun. Memang melukis saja enggak bisa untuk nyambung hidup saat ini," ujar Alex, lalu tercenung.
Dahulu, di tahun 1970-an, hampir semua warga terlibat dalam pembuatan lukisan. Sebagian menjadi artisan, sebagian lain membikin kanvas dan tak jarang pula pembuat pigura.
Dahulu, mudah ditemui para remaja menyapukan kuas dibubuhi cat minyak di atas canvas di pelataran rumah. Tapi sejak Lukisan Sokaraja tak lagi laku di pasaran, banyak orang lantas gantung kuas. Mereka lebih memilih merantau ke Jakarta menjadi kuli atau beralih membuat backdrop, latar belakang studio foto.
"Apa sebabnya lukisan Sokaraja ambruk saya tak tahu persis. Kenyataannya, peminat lukisan Sokaraja semakin hilang," kata Alex yang juga menjaga area parkir dan menerima jasa ojek untuk mengejar rezeki.
Alex di dalam benaknya punya harapan, kelak lukisan Sokaraja bangkit dari keterpurukan. Ia memendam mimpi, mengumpulkan teman-teman sebayanya yang telah menggantung kuas untuk melukis sama-sama di jalan raya Sokaraja. Maksudnya untuk menarik perhatian bahwa masih ada geliat kesenian di Sokaraja. "Lebih baik saya optimis daripada pesimis terus," kata Alex.
Jejak nostalgia lukisan Sokaraja
Suasana keriuhan kreativitas warga Sokaraja yang terlibat dalam pembuatan lukisan pemandangan, juga jadi ingatan tak terlupakan bagi Munaris (51), warga Sokaraja Tengah. Ia bercerita, masih terbayang kenangan 41 tahun silam ketika lukisan Sokaraja jadi primadona. Setiap hari, saban pulang dari sekolah dasar dan melewati pinggiran Jalan Raya Sokaraja, kios-kios lukisan berderet sepanjang jalan. Kios-kios itu menurut kesaksian Munaris tak pernah sepi pembeli.
"Jumlah galerinya puluhan. Dari Kelenteng sampai Perempatan bangjo Sangkal Putung. Jalan itu ada 2 kiloan jaraknya. Di Sangkal Putung, yang terkenal galeri Biis Oil Painting," ujar Munaris.
Sampai saat ini, beberapa pelukis tetap mendapat tempat istimewa di ingatan Munaris. Menurutnya, para pelukis tenar ini juga sumber gairah ekonomi kreatif di Sokaraja. Munaris menyebut di antaranya almarhum Ismail, Sudirno, Gesang Arobbi, Ahmad Sarbini Biis dan putranya Sugeng Wibowo. Di antara sederet nama itu, satu pelukis dikaruniai umur panjang. Abdul Basyir, saksi sejarah pasang lantas surutnya lukisan Sokaraja.
Sekarang, Basyir berusia 88 tahun. Rambutnya telah memutih, dua telinganya tak lagi sanggup mendengar dengan baik. Tapi penampilannya perlente, gemar menggunakan topi pet yang kerap jadi atribut penutup kepala para seniman. Basyir mulai melukis sejak akhir tahun 1930-an, ketika usianya belum genap 10 tahun. Saat itu lukisan pemandangan telah jadi minatnya, dan lukisan Mooi-Indie yang dikenal dengan trimurti gunung, pohon kelapa dan sawah tengah marak menarik hati para pelukis.
Basyir mempelajari seni melukis secara otodidak. Sampai kemudian di usia remaja ia menggemari maestro seni lukis naturalis Indonesia, Basoeki Abdullah. "Saya berguru pada alam," kata Basyir saat ditemui merdeka.com di kediamannya.
Di senjakala usianya, lupa memang banyak menggerogoti ingatannya. Satu hal yang ia kenang, kediamannya pernah menjadi sanggar bagi siapa saja yang tertarik melukis. Anak-anak yang terpaksa putus sekolah ia tampung, ia ajarkan cara menyapu kuas. Maksudnya sederhana, agar mereka tahu cara mendapat uang dengan modal kreativitas.
Lukisan Sokaraja sebagaimana diingat Basyir, memang pernah jadi tumpuan ekonomi banyak keluarga di kampungnya. Tak hanya jadi souvenir bagi wisatawan domestik, lukisan-lukisan Sokaraja juga dikirim sampai ke luar negeri diantaranya Malasyia dan Singapura. Menurutnya, lukisan pemandangan disukai sebab eksotis serta menggambarkan kehidupan yang tenang dan damai menyesap di alam terbuka.
"Saya nelangsa. Tetap ingin melukis terus, tapi sudah gak ada pembeli. Buat apa kalau lukisan jadi menumpuk," kata Basyir.
Sisa-sisa kejayaan lukisan Sokaraja, juga masih menjejak dengan adanya dua galeri lukisan yakni Galeri Keluarga dan HF Galery. Keduanya berdiri ganjil di selatan ruas jalan raya Sokaraja dikepung kios gethuk dan warung sroto.
Syarif (73) pemilik Galeri Keluarga sudah menjual lukisan Sokaraja sejak tahun 1950-an. Tapi kini di galerinya stok lukisan pemandangan khas Sokaraja tergolong minim sebab tak ada regenerasi. Mau tak mau, agar ruang galeri tak kosong, Syarif membeli putus lukisan portrait, bunga-bunga, ikan atau kaligrafi yang ia ambil dari Bandung.
Alasan Syarif tetap mempertahankan galerinya, sebab ia enggan memulai bisnis baru yang ia anggap akan menguras otak. Ia menaruh percaya, rezeki telah diatur oleh Tuhan. Dari menjual lukisan ia merasa telah mendapat penghasilan yang cukup dan sudah tuntas membiayai sekolah anak-anaknya.
"Rezeki sudah ada yang bagi. Kalau bisnis yang lain harus belajar lagi," katanya datar.
Sebagai penjual lukisan, Syarif menilai menurunnya minat pada lukisan Sokaraja seiring maraknya lukisan-lukisan kontemporer serta krisis moneter yang melanda Indonesia. Ia berpandangan, daya beli masyarakat menurun dan membeli lukisan dianggap terlalu mewah. Sedang di sisi lain, lukisan sokaraja merupakan konvensi lama yang digerus kreasi baru. Hilangnya pembeli membuat para pelukis malas berkarya lagi dan enggan mengembangkan diri. Dampak lain, puluhan penjual lukisan gulung tikar lalu banting stir mengubah kios untuk berjualan gethuk.
"Menurut saya tahun 1998, penjualan lukisan Sokaraja mulai redup," imbuh Syarif.
Mendengar cerita Alex, Munaris, Basyir dan Syarif, keberadaan Lukisan Sokaraja nyaris sekadar jadi bagian dari nostalgia. Dalam perjalanan waktu yang terus bergerak maju, lukisan Sokaraja terhempas dan putus menjadi sekadar peristiwa manis yang pernah dialami pada masa lalu. Kejayaan lukisan Sokaraja merekam kegemilangan masa silam dan sampai hari ini masih dicari jalan untuk dijangkau kembali.
(mdk/did)