Longsor pengeboran PLTP Baturraden, air Sungai Prukut kembali keruh
Dampak air keruh sungai Prukut mengganggu aktivitas warga setempat. Sebagian warga yang memanfaatkan air sungai itu untuk air minum ternak maupun suplai air kolam ikan, dihinggapi kekhawatiran.
Sebagian masyarakat di Kecamatan Cilongok kembali harus menghadapi kenyataan pahit mendapati aliran sungai Prukut menjadi keruh berwarna kecokelatan sejak Minggu (1/10). Dalam satu tahun terakhir, air keruh sudah terjadi pada awal tahun 2017 dan terulang untuk kedua kali pada akhir Juli 2017.
Saat itu air bercampur lumpur akibat sisa pembukaan lahan (cut and fill) PLTP Baturraden yang alami longsor karena cuaca buruk. Lahan yang longsor menggelontorkan massa sedimen dalam jumlah besar ke hulu sungai Prukut. Kini air keruh terjadi untuk ketiga kalinya. Penyebabnya, terjadinya longsor lagi di sekitar lokasi pengeboran PLTP Baturraden.
Ketua Paguyuban Air Bersih desa Panembangan Cilongok, Kartun mengatakan, sungai Prukut mulai keruh kembali sejak awal musim penghujan di wilayah Kecamatan Cilongok pada pertengahan September 2017. Saat hujan pertama kali turun akhir Agustus 2017, anak sungai Prukut, sungai Junjungan di desa Panembangan sempat meluap. Sungai itu berubah coklat pekat bercampur lumpur.
"Paling parah keruhnya beberapa hari terakhir, akhir September ini. Air jadi coklat pekat karena sedimen lumpur terlalu banyak," katanya, Selasa (3/10)
Dampak air keruh sungai Prukut mengganggu aktivitas warga setempat. Sebagian warga yang memanfaatkan air sungai itu untuk air minum ternak maupun suplai air kolam ikan, dihinggapi kekhawatiran.
Aktivitas warga sehari-hari terganggu. Apalagi warga masih memfungsikan aliran air Sungai Prukut untuk kebutuhan mandi dan cuci. "Tidak semua warga itu mampu membayar PAM untuk cukupi kebutuhan air rumah tangga. Sebagian warga, mandi dan cuci di sungai."
PT SAE (pengembang panas bumi yang akan membangun PLTP Baturraden) memang telah membangun sumber dari mata air lain yang tak terkontaminasi lumpur untuk memasok kebutuhan air bersih di empat desa meliputi, Panembangan, Sikidang, Karanglo, dan Sambirata. Tapi, Aliran air kadang macet sehingga mengganggu kehidupan warga," ujarnya.
Warga sangat berharap aktivitas tahapan proyek PLTP Baturraden tak mengganggu kebutuhan air bersih untuk kelangsungan hidup mereka. Warga merasa tak punya kuasa untuk menghentikan proyek energi yang diinisiasi pemerintah pusat itu.
Direktur PT SAE, Bregas Rochadi mengatakan keruhnya air sungai Prukut bukan karena kesalahan metode pengerjaan proyek, melainkan akibat terjadinya longsor di sekitar lokasi pengeboran PLTPB pada Sabtu (30/9). Longsor terjadi karena faktor alam yang dipicu hujan lebat di wilayah itu.
"Karena di area pengeboran itu airnya tidak keruh. Ternyata kejadian ada di luar titik pengeboran," ujar Bregas.
Meski bukan karena kesalahan teknis, pihaknya tetap meminta maaf kepada warga atas kejadian ini. PT SAE juga mendistribusikan air bersih dengan mobil tangki ke desa terdampak air keruh.
(mdk/noe)