LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Lokasi stasiun pertama di Indonesia tergilas permukiman warga

Rel itu terpendam tanah dan sudah dijadikan jalan gang oleh warga.

2015-01-21 08:21:00
KELILING INDONESIA
Advertisement

Sudah seharusnya bangunan bersejarah dirawat dengan baik. Termasuk bangunan bersejarah sebuah stasiun kereta api di Desa Kemijen, Semarang Timur, Jawa Tengah.

Di desa tersebut dulunya adalah stasiun kereta pertama yang ada di Indonesia. Namanya stasiun Samarang atau Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS). Dulu namanya Samarang, bukan Semarang seperti sekarang ini. Stasiun ini dibangun pada 17 Juni 1864 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Baron Sloet van den Beele.

Awalnya, dari stasiun itu dibangun jalan kereta api dari Kemijen menuju desa Tanggung. Jaraknya sekitar 26 Km. Mulai dibuka untuk angkutan umum pada 1867.

Tim merdeka.com dan Portrait of Indonesia, Selasa (20/1) mengunjungi lokasi yang dulunya menjadi stasiun kereta NIS. Ramlan adalah saksi hidup berdirinya Stasiun NIS. Usianya sudah 87 tahun.

Saat masih muda dulu Ramlan menjadi pengawas kereta api Depo Semarang-Gubang Surabaya. Setelah pemerintah membangun Stasiun Tawang, stasiun NIS tak beroperasi.

Stasiun NIS pada perkembangannya hanya dijadikan tempat gudang. Lambat laun, stasiun NIS tak terpakai lagi.

Ramlan dan rekan-rekannya sebagai pegawai kereta kemudian menggunakan stasiun NIS sebagai tempat tinggal. "Saya memilih ruangan di sisi barat," kata Ramlan.

Ramlan menceritakan, tempat tinggal yang ditempati dulunya adalah tempat penjualan karcis. Setelah berpuluh-puluh tahun berlalu, bangunan stasiun mulai rusak. Di sekeliling stasiun kemudian tumbuh subur permukiman warga. Bahkan rel kereta sudah tak tampak lagi. Rel itu terpendam tanah dan sudah dijadikan jalan gang oleh warga.

Sisa-sisa stasiun NIS praktis punah. Hanya ada beberapa kecil bangunan yang masih terlihat kokoh berdiri, termasuk yang menjadi tempat tinggal Ramlan. Sisanya, bangunan stasiun dihancurkan warga dan dijadikan rumah berarsitektur sekarang.

Ramlan mengaku sedih karena bangunan stasiun 95 persen sudah tak ada lagi. "Yang tersisa hanya di rumah saya dan beberapa rumah lain," katanya.

Baca juga:
Menara Syahbandar, saksi bisu masa kejayaan Pelabuhan Semarang
Menjelajahi pagoda tertinggi di Indonesia
Mengunjungi Toko Oen, tempat tongkrongan none Belanda di Semarang
Mercusuar Willem III peninggalan zaman kolonial 1884 di Semarang
Toko Oen ini dulu tempat nongkrong none Belanda
Berusia 131 tahun, Mercusuar buatan Belanda di Semarang masih kokoh
Nikmatnya tahu gimbal, menu wisata kuliner di Simpang Lima Semarang

(mdk/tyo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.