LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Makin pede, LGBT Indonesia bikin ponpes dan terjun ke politik

Kendati begitu, mereka masih mengalami diskriminasi karena dianggap menyalahi kodrat

2015-07-05 07:43:00
LGBT
Advertisement

Keberadaan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender) masih dianggap tabu dan dipandang sebelah mata oleh sebagian orang. Tak jarang mereka mengalami diskriminasi karena dianggap menyalahi aturan yang berlaku.

Anggota komunitas LGBT, Arus Pelangi, Shinta Ratri mengatakan masih banyak penolakan yang diterima oleh kaum LGBT. Meski begitu, Shinta yang merupakan transgender ini tetap memperjuangkan untuk mendapatkan kesetaraan di masyarakat.

"Dalam penerimaan di masyarakat kami masih mendapatkan banyak penolakan, tidak sepenuhnya diterima di masyarakat. Masih banyak yang menolak, itulah kenapa kita berjuang, memperjuangkan identitas, memperjuangkan hak," kata Shinta ketika dihubungi merdeka.com, Jumat (3/7).

Meski transgender, Shinta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dengan mendirikan pondok pesantren waria Al-Fatah di Bantul, Jogjakarta. "Kita teman-teman waria menjunjung agama karena waria punya hak ibadah. Merefleksikan spiritualitas kita. Ini membuka mata orang-orang di sekitar ponpes. bahwa semua orang butuh beribadah," imbuhnya.

Namun, di balik penolakan ada pula penerimaan. Shinta mengaku ada sejumlah kalangan yang menerima keberadaan LGBT, seperti akademisi dan mahasiswa. Menurut Shinta, dukungan itulah yang bisa memperjuangkan keberadaan kaum LGBT, terutama transgender.

"Inilah yang menjadi masa depan kita, mahasiswa ini yang nantinya memperjuangkan kita. Agar bisa ke depannya LGBT bisa diterima. Bagaimana pun LGBT warga negara juga. Jadi mereka masih punya hak sebagai warga negara. Toh mereka menjadi LGBT juga bukan karena keinginan mereka sendiri kan," tandasnya.

Sementara itu, pendiri gerakan homoseksual GAYa Nusantara, Dede Oetomo mengatakan penolakan terhadap kaum LGBT merupakan hal yang biasa. Padahal yang mereka alami hanyalah konflik batin, dimana mereka merasakan cinta terhadap sesama jenis.

Meski begitu, sudah banyak kaum LGBT yang mulai terbuka dengan status seksualnya. "Banyak sekali mereka yang mau terbuka. Terutama kepada keluarga, dan masyarakat sekitar," kata Dede ketika diwawancara terpisah.

Sayangnya, pengakuan yang mereka dapatkan tidak sepenuhnya membebaskan kaum LGBT atas hak-hak yang mereka miliki. Seperti dalam berpolitik, kaum LGBT masih sulit mendapat dukungan dari masyarakat.

"Sudah banyak yang mencoba (ke politik), bahkan dari KPU tidak mempermasalahkan. Hanya saja kurang dukungan, kampanye. Waktu saya daftar di Komnas HAM katanya saya kurang lobi," tutupnya.

Baca juga:
LGBT Indonesia yang sukses dan bangga dengan identitas seksualnya
Radikalisme agama tak surutkan eksistensi LGBT
Kaum LGBT dihambat adopsi anak di Indonesia
Kaum Bissu Sulsel, LGBT paling dihormati di Indonesia
LGBT Indonesia ingin menuju pernikahan sejenis seperti di AS?

(mdk/war)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.