LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Lewat film, mantan tapol ini desak pemerintah meminta maaf

Baik Hersri maupun Tedja dan 12.000 tahanan politik pada tahun 1965 dibuang ke Pulau Buru tanpa proses pengadilan.

2016-03-17 04:11:00
film nasional
Advertisement

Film dokumenter berjudul Pulau Buru Tanah Air Beta garapan oleh sutradara Rahung Nasution bercerita tentang perjalanan ziarah dua mantan tahanan politik tahun 1965 di pulau buru. Adalah Hersri Setiawan dan Tedjabayu dua mantan tapol yang menjadi aktor utama dalam film dokumenter berdurasi 48 menit ini.

"Film ini bermaksud merunut jejak langkah kami di Pulau Buru saat menjadi tapol bersama 850 orang lainnya. Saat itu saya ada di unit 40. Kalau Tedja itu unit lainnya," cerita Hersri di Kantor komnas HAM, Jakarta Pusat, Rabu (16/3).

Baik Hersri maupun Tedja dan 12.000 tahanan politik pada tahun 1965 dibuang ke Pulau Buru tanpa proses pengadilan yang membuktikan mereka bersalah. Di sana mereka mengalami perlakuan kejam dan tak manusiawi oleh tentara yang ditugaskan sebagai penjaga kamp konsentrasi.

"Kami semua tunduk pada penguasa. Kami bangun jam 4 pagi padahal baru selesai bekerja jam 12 malam. Harusnya kami bangun jam 5, tapi untuk apel kita harus bangun lebih awal. Apel itu cuma absen nama pekerja takut ada yang tidak ada," kenang Hersri.

"Di sana kemudian kami berusaha merunut sejarah kami yang semu. Yang kami alami di sana mulai dari penyiksaan dan enggak ingat kenyamanan yang kami rasakan," imbuh dia.

Hersri Setiawan ©2016 Merdeka.com/Anisyah Al Faqir

Advertisement


Bagi para tapol, Pulau Buru saat itu layaknya penjara alam. Mereka diharuskan melakukan kerja paksa untuk mengubah rawa-rawa menjadi pemukiman dan area pertanian bagi para transmigran dari jawa pada tahun 1980-an.

"Presiden Jokowi waktu itu ke Pulau Buru. Kata dia Pulau Buru akan jadi sumber beras Indonesia Timur. Tapi dia tidak diucapkan tanda-tanda pertama tempat itu dibuat dilakukan oleh tapol," ungkapnya.

Hal tersebutlah yang membuatnya geram lantaran tidak mengakui derita ribuan tapol yang mati-matian mengubah hutan rawa menjadi sumber lumbung padi.

"Saya hanya ingin pemerintah meminta maaf kepada kami atas perbuatan itu. Kami tidak meminta kompensasi, kami hanya butuh ucapan maaf," tutup dia.

Baca juga:
Film 'Pulau Buru Tanah Air Beta' tetap diputar di Komnas HAM
Film Kontroversial 'THE ACT OF KILLING' dapatkan 2 nominasi Oscar
Pria melambai tak boleh tampil di TV, apa kata Tanta Ginting?
Hestu Saputra siap angkat kisah hidup para sosialita ke layar lebar
Produser 'TERJEBAK NOSTALGIA': Film Raisa tidak batal tayang

(mdk/tyo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.