Lava dari letusan Gunung Agung tahun 1963 menyumbat dorongan magma
Lava dari letusan Gunung Agung tahun 1963 menyumbat dorongan magma. Devy telah menerbangkan drone untuk memantau kawah Gunung Agung. Hanya saja, penerbangan drone itu dilakukan sesaat hanya mengukur kadar volume gas.
Gunung Agung menyemburkan gas setinggi 700-1000 meter kemarin sore, Selasa (21/11). Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur, Devy Kamil Syahbana mengatakan semburan gas asap pekat dari kawah gunung setinggi 3.142 mdpl di Bali itu merupakan gas vulkanik yang mengandung karbon dioksida (CO2) dan Hidrogen dioksida (H2O).
"Letusan yang terjadi kemarin itu sudah mengeluarkan gas vulkanik," ucapnya, Rabu (22/11).
Sebelum itu terjadi, Devy telah menerbangkan drone untuk memantau kawah Gunung Agung. Hanya saja, penerbangan drone itu dilakukan sesaat hanya mengukur kadar volume gas.
"Kami menerbangkan drone sebelumnya dan hasil pengukuran gas pada plume kemarin pagi menunjukkan kadar CO2 dan H2O yang tinggi. SO2 justru rendah. Kemungkinan karena faktor scrubbing, SO2 terjebak dalam air hidrothermal di dalam tubuh Gunung Agung, hingga terjadi letusan," kata Devy.
Ia melanjutkan, tingginya kadar CO2 mengindikasikan bahwa asap putih yang teramati selama ini merupakan kontribusi dari magma.
"Asap ini 100 persen adalah volcanic origin. Kami sudah diskusi dengan ahli geokimia dunia, mereka sepakat bahwa asap selama ini, meskipun didominasi uap air, namun memiliki komponen magmatik yang cukup tinggi," ujarnya.
Devy menambahkan, sejauh ini sudah terjadi rekahan yang makin membesar sejak pertengahan bulan ini. "Kalau rekahan memang teramati membesar dari satelit pada sekitar 15 November 2017. Satelit Aster TIR juga menangkap peningkatan energi tremor di hari yang sama," tuturnya.
Selain itu, begitu kencangnya dibombardir oleh tremor dan kuatnya dorongan magma, Gunung Agung masih tetap belum meletus. Hal itu ternyata secara ilmiah lava dari letusan tahun 1963 lalu menyumbat terjadinya ledakan dari Gunung Agung.
"Kita terus pantau apakah sumbat lava 1963 terbongkar sepenuhnya atau tidak. Bila magma berhasil membongkar, diprediksi akan terjadi cahaya dibarengi dengan suara letusan," ungkap Devy.
Namun untuk hal itu dirinya juga tidak bisa memprediksi kemungkinan terjadinya letusan yang dibarengi dengan suara ledakan. Pastinya hingga saat ini Gunung Agung yang terletak di kabupaten Karangasem, ujung timur pulau Dewata ini masih terlihat adem dan tenang.
(mdk/eko)