LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Lakon Hadi Siswoyo Memadukan Jawa-Sunda jadi Wayang Golek

Sejak berusia belia, Hadi sudah terbiasa memotong-motong kayu albasia atau pule sebagai bahan dasar wayang golek. Jemarinya juga terampil menggunakan pisau kecil untuk mengukir mahkota, mata, telinga dan detail-detail lain wayang golek.

2018-11-18 05:04:00
Wayang
Advertisement

Kepala-kepala wayang berbahan kayu bergeletakan di atas sofa. Di atasnya berjajar wayang golek yang ditancapkan di atas papan kayu, mulai dari figur cepot, hanoman, bima dan puluhan wayang lain yang belum dibalut busana dan dilapisi cat.

Bambang Hadi Siswoyo (50), empu pembuat wayang golek tersebut, belum sempat membereskan wayang-wayang golek miliknya. Ia baru sembuh dari flu.

"Sudah dua hari ini libur. Badan perlu istirahat dulu", tutur Hadi dengan logat sunda yang kental, Jumat (16/11) sore.

Advertisement

Seperti buah yang jatuh tak jauh dari pohonnya, darah seni dari mendiang kakek dan sang bapak menurun ke Hadi. Kakeknya, Sumardjo, adalah dalang wayang golek di Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Sedang bapaknya, Sunardjo, seorang penganyam kerajinan bambu.

Sejak berusia belia, Hadi sudah terbiasa memotong-motong kayu albasia atau pule sebagai bahan dasar wayang golek. Jemarinya juga terampil menggunakan pisau kecil untuk mengukir mahkota, mata, telinga dan detail-detail lain wayang golek.

"Tujuh hari selesai", kata Hadi yang sehari-hari berprofesi menjadi guru di salah satu SLTA di Wanareja ini.

Advertisement

Bercerita soal wayang golek ciptaanya, Hadi mengatakan tengah mengkreasiakan wayang golek gagrak tjalajapan. Wayang ini memadukan unsur kultural Jawa Cilacapan dan Sunda. Sebab secara kultural, Hadi dibesarkan di wilayah Wanareja yang terletak pada batas daerah kebudayaan Jawa dengan Sunda.

Secara administratif Wanareja termasuk bagian dari Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Namun pergaulan sehari-hari juga kesenian rakyat di lingkungan ini lebih lekat dengan budaya Sunda.

Di masa kanak, Hadi masih mengingat, kerap diajak sang kakek menonton pertunjukan wayang golek purwa yang mempergunakan bahasa Sunda di wilayah Wanareja. Tapi di sisi lain, ia juga mengenal wayang kulit yang populer di Jawa Tengah dan dimainkan dalam bahasa Jawa. Dua kenangan itu, memantik minatnya untuk mengembangkan wayang golek sebagai ciri Sunda yang dipadukan dengan detail-detail ukiran Jawa Tengah.

"Saya berpandangan di wilayah Cilacap Barat ini punya kekayaan tersendiri perpaduan Jawa Tengah dan Sunda. Sejak tahun 1995 saya resah, Cilacap harus punya karakter sendiri di karya seni. Saya mulai membuat wayang golek gagrak tjalajapan yang wajahnya berkarakter sunda tapi ukiran di mahkota dan aksesori mewakili Jawa Tengah", urai Hadi.

Ia lantas mengembangkan idenya itu dalam wayang berukuran standar 60 cm. Agar wayang golek itu benar-benar seakan-akan hidup, ia membuat desain di mana mata, mulut dan leher wayang dapat digerak-gerakkan oleh sang dalang.

Sejauh ini, Hadi sudah membuat sejumlah wayang yang figurnya dari epos Mahabharata dan Ramayana. Selain itu ia membuat tokoh semar, figure tambahan yang bersifat Jawa, dan Cepot figur dari pewayangan Sunda yang identik dengan anak semar yakni bagong.

Menurut Hadi, wayang golek buatannya setidaknya dapat digunakan untuk menyampaikan makna-makna keberagaman. Secara sosial Wanareja atau wilayah Cilacap Barat bisa jadi gambaran tentang warga sipil yang menolak tinggal dalam sebuah lingkungan kesamaan warna kulit, rasa tau suku. Warga baik Jawa atau Sunda saling berbaur membiarkan satu sama lain saling menyerap. Pembauran tersebut adalah kekayaan multikultural juga jejak bagi pluralisme.

"Wayang identik dengan muatan filosofi yang tinggi. Setiap tokoh wayang memuat filosofi hidup tertentu. Di Cilacap ini, kekayaan multikultural juga bisa disampaikan dalam wayang", ujarnya.

Dalam segi teknik pembuatan wayang golek gagrak tjalajapan, Bambang Hadi Siswono mendedikasikan kemampuannya untuk memadukan dua unsur budaya yang berbaur di wilayah tempat ia tinggal. Wayang-wayang golek buatan Bambang itu, kini tengah menunggu seorang dalang yang mencipta lakon untuk menyampaikan indahnya kekayaan multikultural Kabupaten Cilacap.

Baca juga:
Sekaten Solo, Gamelan Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari Mulai Ditabuh
Kemeriahan Indonesia Menari 2018
Karnaval Ondel-Ondel Menolak Ondel-Ondel Dijadikan Alat Mengamen
Tari Topeng Betawi dan Maudy Koesnaedi meriahkan HUT ke-50 TIM
Wayang Urban buka perayaan HUT ke-50 Taman Ismail Marzuki
4 Gedung pemerintahan ini malah meniru gaya luar negeri
Hikayat Banokeling di tanah Banyumas

(mdk/lia)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.