Lahan sengketa dijadikan area pameran fotografi
Sisi barat area kawasan bisnis Kebondalem Kabupaten Banyumas bertahun-tahun menjadi lahan sengketa. Kini di lokasi itu digelar pameran fotografi. Di seng-seng yang menjadi dinding lokalisir area bisnis, 6 foto cerita dipajang oleh 6 fotografer Banyumas yang bergiat di Komunitas Logawa.
Sisi barat area kawasan bisnis Kebondalem Kabupaten Banyumas bertahun-tahun menjadi lahan sengketa. Kini di lokasi itu digelar pameran fotografi. Di seng-seng yang menjadi dinding lokalisir area bisnis, 6 foto cerita dipajang oleh 6 fotografer Banyumas yang bergiat di Komunitas Logawa.
Dari 7 foto cerita tersebut yang dirangkum dalam tema 'Logawa Bergerak' diangkat 3 foto cerita tentang peristiwa-peristiwa di Banyumas mulai dari kehidupan eks tapol dari Banyumas yang pernah menjadi tahanan politik di Pulau Buru, kesenian langka wayang potehi yang dihidupi warga Tiong Hoa dan fungsi pos kamling dalam kaitan sejarah. Sedang 3 foto lainnya mengangkat perubahan lingkungan, ritual Kasada di Tengger dan denyut kehidupan dermaga di Kabupaten Cilacap.
Ketua Komunitas Logawa, Dian Aprilianingrum mengatakan dipilihnya area kawasan bisnis kebondalem menjadi ruang pameran sebagai kritik pada Pemkab Banyumas atas ketiadaan ruang publik untuk berkesenian. Selain itu, pameran publik ini untuk menegaskan bahwa fotografi tidak bersifat eksklusif tapi bisa dinikmati oleh siapapun tanpa memandang status sosial.
"Pameran ini bebas dinikmati siapapun. Bahkan kalau ada warga yang tertarik dengan salah satu foto, boleh diambil," kata Dian yang sehari-hari bekerja sebagai pewarta foto ini, Rabu (5/4).
Ia juga mengatakan, dalam pameran tersebut memang tak diikat dalam satu tema tertentu. Keseragaman hanya pada jenis karya yang berupa foto cerita. Dipilihnya foto cerita untuk memudahkan pengunjung pameran memaknai peristiwa yang diangkat fotografer secara utuh.
"Kami ingin warga bisa memahami peristiwa secara tidak sepotong-potong. Kami ingin bertutur dengan bahasa gambar," ungkapnya.
Terpisah, salah satu pengunjung pameran, Dirkam warga Baturraden miris melihat foto cerita yang dipajang oleh para fotografer. Tentang foto 'Gelora Senjakala' karya Kukuh Sukmana Hasan dan 'Rapuh' jepretan Himawan L Nugraha.
Dirkam melihat kenyataan menyedihkan tentang 5 ekstapol yang menjalani hidup susah di Pulau Buruh dan hutan yang beralih fungsi menjadi bangunan-bangunan pabrik dan hunian-hunian bagi orang-orang kaya.
"Saya baru kali ini lihat pameran fotografi. Miris lihatnya," kata Dirkam pada merdeka.com, Rabu (5/4).(mdk/did)