Kritik keras Buya, tolak wantimpres sampai sebut Jokowi baru siuman
Jokowi bukan tokoh partai, jadi sulit ambil keputusan.
Mantan ketua umum PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif mengatakan perseteruan antara KPK dengan Polri sebagai akibat tidak tegasnya Presiden Jokowi dalam menentukan calon Kapolri. Menurutnya, seharusnya peristiwa ini tidak terjadi jika Jokowi sejak awal mau mencari calon Kapolri yang relatif bersih. Penasihat PP Muhammadiyah sekaligus Guru Besar UNY Buya Syafii Maarif menolak posisi Dewan Pertimbangan Presiden yang ditawarkan Jokowi. Buya memilih berada di luar untuk mengawal pemerintahan Jokowi tetap sesuai komitmen awal. Mantan ketua umum PP Muhammadiyah Syafi'i Ma'arif mengatakan perseteruan antara KPK dengan Polri sebagai akibat tidak tegasnya Presiden Jokowi dalam menentukan calon Kapolri. Menurutnya, seharusnya peristiwa ini tidak terjadi jika Jokowi sejak awal mau mencari calon Kapolri yang relatif bersih. Syafi'i Ma'arif bersyukur dengan dibentuknya tim independen oleh Presiden Jokowi untuk menyelesaikan konflik KPK dengan Polri yang diisi oleh orang-orang yang dinilainya sudah tepat. Melihat komposisi tim, dia pun bersedia untuk bergabung.
Menurut Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) itu, di tubuh Polri masih banyak jenderal bintang bintang tiga bersih yang layak dicalonkan untuk memimpin korps Bhayangkara. Terkait ketidaktegasan Jokowi , pria yang kerap disapa Buya itu menyadari posisi mantan Gubernur DKI Jakarta, yang tak memiliki posisi di partai sehingga tidak mudah baginya untuk mengambil keputusan.
Selain ketidaktegasan, Buya juga sempat menyindir Jokowi jika dirinya baru siuman. Sindiran tersebut ditujukan setelah Jokowi membentuk tim independen untuk menyelesaikan konflik KPK dengan Polri.
Meski dekat dengan Jokowi, Buya tidak segan melayangkan kritikan terhadap mantan Walikota Solo tersebut. Tercatat, lebih dari sekali tokoh Muhammadiyah tersebut mengkritik politikus PDIP itu.
Berikut Kritik keras Buya, tolak wantimpres sampai sebut Jokowi baru siumanTolak jadi Wantimpres
"Saya serahkan kepada orang lain saja. Dulu saya pernah jadi anggota Dewan Pertimbangan Agung selama 5 tahun, hampir sama dengan posisi Wantimpres. Cukuplah, tak perlu lagi," kata Buya saat berbincang dengan merdeka.com, Minggu (17/1).
Buya siap memberikan nasihat atau pertimbangan apapun pada Jokowi jika dibutuhkan. Namun menurutnya tak perlu duduk di posisi Wantimpres.
"Sebagian di dalam, sebagian di luar. Saya pilih di luar. Bisa saja kalau hanya minta nasihat kan," katanya.Jokowi bukan tokoh partai, jadi sulit ambil keputusan
"Masih banyak yang baik, jendral bintang tiga masih ada yang bersih, jadi masih banyak pilihan," katanya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Senin (26/1).
Dia pun menyadari jika Jokowi bukanlah tokoh partai sehingga tidak mudah bagi Jokowi untuk mengambil keputusan.
"Memang tidak mudah bagi dia, karena ada partai. Kalau tidak tegas maka wibawa akan melorot. Gagasan lainnya seperti tol ini dan tol itu tidak akan jalan," ujarnya.Bentuk tim independent, Jokowi sudah siuman
"Saya bersyukur Jokowi akhirnya siuman, tim tujuh itu ada Oegroseno polisi yang berani, kemarin dia bilang penangkapan Bambang tidak sah, jarang ada polisi semacam itu, juga ada Prof Bambang Widodo Umar, Jimly, dan lainnya," ujarnya.
Dengan dibentuknya tim tersebut dia berharap Jokowi bisa mendengarkan suara hati nurani yang benar. "Tadinya saya tidak suka, tapi sekarang sudah benar, mudah-mudahan Presiden benar-benar mendengar hati nuraninya," tandasnya.