LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kredit mencekik leher, ibu-ibu demo buka baju

Warga mengaku berutang Rp 30 juta, namun hanya terima Rp 27 juta. Belakangan utangnya membengkak jadi Rp 60 juta.

2013-11-13 13:55:59
BLSM
Advertisement

Puluhan orang didominasi ibu-ibu, berunjuk rasa di depan kantor Koperasi Kredit (CU) Rukun Damai Jalan HM Jhoni, Pasar Merah, Medan, Rabu (13/11) siang. Mereka memprotes praktik kredit yang dinilai lembaga itu yang dinilai mencekik leher.

Dalam aksinya, para pendemo membawa poster yang isinya menyatakan CU Rukun Damai bertindak seperti drakula pengisap darah. Seorang ibu bahkan nekat buka baju dan menunjukkan BH-nya sebagai aksi protes. Dia juga menungging mengarahkan bokongnya ke kantor CU Rukun Damai.

"Kembalikan surat tanahku. Penipu kau," teriak seorang perempuan setengah baya itu sambil membuka kaus hitamnya.

Perempuan bertubuh gemuk ini hanya satu dari puluhan pendemo yang kecewa dengan CU Rukun Damai. Sugiarni (43), warga Jalan Cemara I, Batang Kuis, Deliserdang, yang ikut berunjuk rasa, mengaku sudah dirugikan lembaga itu sejak awal.

"Saya mau meminjam karena 3 hari sudah cair. Saya utang Rp 1,5 juta, saya terima Rp 700-an ribu. Rp 500 ribu katanya untuk simpanan kami, sisanya orang itu yang tahu. Kami diwajibkan membayar Rp 13 ribu sehari untuk 300 hari," katanya.

Persoalan mulai muncul, setelah Sugiarni dinyatakan berutang Rp 3 juta. Dia setuju saja dan menyepakati nominal utang itu dengan menandatangani perjanjian. Tapi, belakangan utangnya itu membengkak jadi Rp 6 juta.

"Karena tukang kutipnya tak datang-datang, bunga jalan terus, tahu-tahunya sudah Rp 6 juta, bahkan sekarang jadi Rp 10 juta," jelasnya.

Hal serupa dialami Hamidar (44), juga warga Batang Kuis. Perempuan ini mengaku berutang Rp 30 juta, namun hanya terima Rp 27 juta. Belakangan utangnya disebut sudah Rp 60 juta.

"Bahkan sekarang sudah Rp 100 juta lebih. Surat tanah saya ditahannya," jelas perempuan ini sambil menangis.

Para pengunjuk rasa ini menuntut agar persoalan utang itu diselesaikan dengan wajar. Mereka tetap bersedia membayar selama angkanya tidak mencekik leher. "Namanya utang kan harus dibayar, tapi janganlah keterlaluan. Kalaupun disebut kami jadi berutang Rp 3 juta seperti yang kami teken, biarlah, jangan nambah lagi. Kami ini orang kecil, kami meminjam untuk modal," imbuh Sugiarni.

Perwakilan pengunjuk rasa sempat dipersilakan masuk ke dalam kantor CU Rukun Damai. Namun setelah keluar dari sana mereka menyatakan tidak ada titik temu. Pihak CU meminta waktu 2 pekan untuk menyerahkan print out utang para pengunjuk rasa sekaligus mencari tahu akar masalahnya.

"Dari dulu, itu saja jawabannya, tapi tidak pernah dibuktikan," teriak pengunjuk rasa.

Pihak CU Rukun Damai sendiri tidak memberikan komentar mengenai persoalan itu. Kantor mereka tertutup. Sejumlah orang sempat keluar dari lantai atas sambil tersenyum dan tertawa, sehingga para pengunjuk rasa emosi dan sempat mendorong pagar.

Petugas kepolisian pun menyuruh mereka masuk untuk meredakan emosi pendemo. Tak lama berselang, pengunjuk rasa membubarkan diri, dan menyatakan akan terus melakukan aksi jika persoalan itu tidak selesai.(mdk/did)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.