Korupsi masih marak, revolusi mental Jokowi belum berhasil
Menurut Dedi, negara yang sudah berhasil revolusi mentalnya adalah munculnya pemimpin yang dapat jadi teladan serta sistem yang mengikat semua elemen bangsa sehingga mereka bisa berubah.
Presiden Joko Widodo mengusung jargon Revolusi Mental saat Pilpres 2014. Namun menurut motivator, innovator dan author nasional, Dedi Mahardi, revolusi mental tersebut belum berdampak yang signifikan.
Ditandai dengan semakin maraknya korupsi dan penyakit masyarakat lainnya semakin parah.
"Kalau dilihat dari kondisi bangsa, belum berdampak yang besar. Apalagi dibandingkan dengan bangsa yang juga menganut revolusi mental seperti Kuba dan China," jelas Dedi dalam peluncuran buku 'Revolusi Mental' bersama Asosiasi Penulis dan Inspirator Indonesia (ASPIRASI)di Jakarta, Senin (24/4).
Menurut Dedi, negara yang sudah berhasil revolusi mentalnya adalah munculnya pemimpin yang dapat jadi teladan serta sistem yang mengikat semua elemen bangsa sehingga mereka bisa berubah. Tetapi di negara ini, lanjut Dedi, sistem dibuat untuk kepentingan kelompok dan kepentingan jangka pendek.
Menurut Dedi, ada beberapa cara untuk mempercepat mental rakyat Indonesia berevolusi. Namun, harus dibarengi dengan sikap konsisten dari pemimpin negara. "Pertama, mulailah berubah dari diri sendiri. Kedua, merekrut agen-agen perubahan untuk disusupkan di semua lapisan masyarakat. Ketiga, menjadikan integritas dan etika moral sebagai syarat utama seseorang diangkat jadi pemimpin semua level kepemimpinan," jelas dia.
"Keempat, mendidik pemimpin agama dan guru yang pantas diteladani oleh semua umat. Kelima, membuat efek malu kepada koruptor dan orang-orang bermoral bejat dengan menyiarkan setiap periode tertentu dan mendaftarkan di laboratorium revolusi mental," tambah Dedi.(mdk/ded)