Kisruh sampah Jakarta, pendapatan pemulung di Bantargebang menurun
Kendala cari sampah malam hari gelap, dan cuaca yang dingin, apalagi harus mencari di gunungan sampah.
Kisruh TPST Bantargebang berimbas pada para pemulung di tempat sampah seluas 110 hektar milik DKI Jakarta tersebut. Kini ratusan pemulung beraktivitas pada malam hari, karena siang tak ada pengiriman sampah.
"Dari hari Selasa, mengais sampah pada malam hari hingga pagi," ujar salah satu pemulung di TPST Bantargebang Rizal (21), Jumat (6/11).
Warga asal Indramayu, Jawa Barat ini mengatakan, kendala mengais berbagai sampah yang mempunyai nilai ekonomis ialah gelap, dan cuaca yang dingin pada malam hari. Apalagi, lokasinya berada di atas gunungan sampah.
"Kalau malam harus hati-hati, dan jeli. Kalau enggak, ya otomatis hasilnya tidak maksimal," katanya.
Ia mengaku mengandalkan penghasilan dari hasil memulung. Setiap 20 hari sekali, pria yang sudah 2 tahun memulung sampah tersebut mendapatkan hasil Rp 800 ribu sampai Rp 1 juta.
"Kalau sekarang kemungkinan menurun, karena mencari sampah malam hari lebih sulit dibanding siang hari," katanya.
Karena itu, ia berharap proses pembuangan sampah di TPST Bantargebang normal kembali, yaitu ada yang siang hari dan malam hari.
Seperti diketahui, truk sampah DKI Jakarta diperbolehkan melintas di Bekasi maupun Cibubur pada malam hari. Sebelumnya, truk yang melintas Cibubur pada siang hari. Setelah diprotes warga Cileungsi, akhirnya disepakati truk melintas pada malam hari.
Baca juga:
Ahok pertimbangkan buang sampah DKI ke Bogor
Ahok: Kamu kira sampah Bekasi buangnya ke mana? Bantargebang juga
Kisruh sampah Jakarta, kapolda buat tim usut penyelewengan PT GTJ
Bereskan polemik sampah Jakarta, Ahok rapat dengan Kapolda Metro
Disemprot Ahok, Kadis Kebersihan janji sempurnakan MoU soal sampah
Ahok ancam Kadis Isnawa karena sampah: Kalau tak berani saya ganti
Ahok buang badan soal sampah, ngotot salahkan anak buah tak becus