Kisah warga Kebumen 'jatuh cinta' pada ular piton sampai beri nama Syahrini & Rambo
Hobi memang unik. Kecintaan terhadap sesuatu bisa jadi berurusan dengan membahayakan nyawa di mata orang lain. Apa lagi berkaitan dengan ular piton atau sanca berukuran raksasa, bila melilit sanggup membuat remuk tulang orang.
Hobi memang unik. Kecintaan terhadap sesuatu bisa jadi berurusan dengan membahayakan nyawa di mata orang lain. Apa lagi berkaitan dengan ular piton atau sanca berukuran raksasa, bila melilit sanggup membuat remuk tulang orang.
Di Dusun Gunungsari Desa Pejagoan Kabupaten Kebumen, 10 ular piton sudah jadi pemandangan wajar bagi warga sekitar. Munding Aji (30) merawat 10 ular berukuran 4 meter sampai 10 meter, berat 300 Kg sampai 400 Kg, mendesis dan melata di pekarangan rumah.
Tak terlihat rasa takut dari tatapan anak-anak dan ibu-ibu di kampung itu. Sudah biasa mereka membelai sisik ular-ular itu.
Warga Kebumen pelihara 10 ular piton ©2018 Merdeka.com
"Mereka semua (ular) sudah jinak," kata Munding Aji kepada merdeka.com di kediamannya, Rabu (24/1) sore.
Munding bercerita merawat ular-ular tersebut sejak berusia kurang dari 1 tahun. Dahulu dia takut pada ular sebab film-film yang ditonton acapkali mendeskripsikan ular sebagai hewan yang ganas. Kira-kira 11 tahun lalu, dia mengunjungi kediaman temannya dan mendapati seekor ular yang disangkarkan jadi hewan peliharaan. Untuk pertama kalinya Munding memberanikan diri menyentuh dan bermain-main dengan ular. Tak disangka dia justru jatuh cinta.
"Bagi saya ular itu makhluk yang sabar. Mulai tahun 2007 saya merawat ular. Sekarang ini untuk menghidupi mereka paling tidak tiap sebulan saya menyiapkan 100 ekor ayam," ujarnya.
Saking cintanya dengan ular-ular peliharannya, Munding memberi nama peliharaannya sesuai dengan karakter yang dia amati. Syahrini, ular berbobot 300 Kg berukuran 10 meter, dia nilai paling lemah lembut, feminim, kalem dan paling khas jika melata kerap maju, maju, maju lalu mundur cantik.
Lalu ada pula, Rambo yang tatapannya tajam dan bermuka sangar. Sedang Amel si Albino, berkulit putih dengan corak batik kuning, tidak mau diam tapi nampak gerak-geriknya anggun.
Di antara 10 ekor ular itu, paling favorit yang sering diajak bermain oleh warga yakni Syahrini. Ular Syahrini ini oleh warga disayangi sebab jinak dan kalem saat dibelai-belai. Syahrini, tahun 2017 silam sempat pula ditawar Rp 150 juta oleh orang dari Jakarta. Kadung sayang, Munding menolak.
Saat Munding mengeluarkan Syahrini dan Rambo dari sangkar, anak-anak yang menunggu waktu mengaji di lingkungan kampung tersebut meriung mendekat. Mereka nampak santai membelai-belai Syahrini sembari bergurau. Ahmad Nabil (9), mengatakan tidak takut dengan ular sebab sudah biasa melihat.
Warga Kebumen pelihara 10 ular piton ©2018 Merdeka.com
"Lucu ular-ularnya," kata Nabil polos.
Semenjak memelihara puluhan ekor ular piton, Munding juga merasa semakin banyak mendapatkan teman-teman baru. Salah satunya dara berusia 20 tahun, Bianca, warga Desa Karangsari Kabupaten Kebumen.
Bianka punya hobi yang unik, berswa foto dengan ular. Sejak kecil dia menyukai ular tapi belum ada keinginan memelihara. Setiap mengunjungi kebun binatang misalnya, dia selalu mencari tahu informasi apakah bisa berfoto dengan jenis-jenis ular koleksi.
"Awal mula ketemu Munding sama ular-ularnya diajak teman. Terus beberapa kali ke sini. Suka saja saya foto-foto sama ular," ujar Bianca.
Setiap akhir pekan, kediaman Munding kerap didatangi banyak orang, mulai dari penghobi ular sampai warga dari kampung dan kota lain. Mereka datang sebab penasaran dengan piton-piton raksasa atau menyalurkan kegemaran melihat hewan melata.
Baca juga:
Riung keakraban warga Pejagoan Kebumen dengan ular-ular piton
Cerita di balik keunikan mobil bermuka dua di Bandung
Keren, block note unik ini munculkan objek 3D begitu kertasnya habis disobek
6 Fiksi bertema anti-bullying yang perlu kamu baca
Wanita Palestina simpan sisa potongan rambut selama 67 tahun