Kisah Taufiq pernah jual beli motor dan jadi sopir taksi gelap
TK bertanggung jawab menjadi kepala keluarga dan menjadi tulang punggung bagi ibu dan sembilan adiknya.
Setelah meresmikan Monumen Bung Karno dan Situs Rumah Pengasingan Bung Karno di Ende, Nusa Tenggara Timur pada 1 Juni lalu, Taufiq Kiemas (TK) kelelahan. TK langsung dibawa keluarganya menuju Singapura untuk mendapatkan pengobatan.
Di negeri itu, TK mengembuskan napas terakhirnya Sabtu (9/6) malam. Ribuan warga, artis, pejabat dan duta besar negara asing ikut mengantarkan jenazahnya hingga ke TMP Kalibata. Prosesi pemakaman dipimpin langsung Presiden Susilo Bambang Yudhoyono .
Ketika masih muda, TK pernah mengalami sulitnya mencari uang. Dia dan adiknya Santayana Kiemas menjadi penopang hidup sembilan saudara kandungnya yang masih kecil.
Ayah TK, Tjik Agoes Kiemas mengalami stroke di usianya yang ke-49 tahun. Tak lama setelahnya, Agoes meninggal dunia. Sebagai anak tertua, TK bertanggung jawab menjadi kepala keluarga dan menjadi tulang punggung bagi ibu dan sembilan adiknya.
"Sejak itu, Kak Taufiq dan saya bahu-membahu mencari nafkah dengan bekerja apa saja," kata Santayana di buku biografi TK 'Gelora Kebangsaan Tak Kunjung Padam' terbitan Q Communication tahun 2012.
Demi mencari uang, TK dan Santayana memulai bisnis dari bawah. Keduanya sempat menjadi sopir taksi gelap. Tak hanya itu, keduanya pernah jual beli motor, berjualan ban bekas di Tanah Abang, hingga membuka pangkalan minyak.
"Tapi alhamdulillah, dari bisnis serabutan itu kami bisa membantu biaya sekolah adik-adik," kenang Santayana.
Baca juga:
Sebelum wafat, Taufiq Kiemas dikritik 4 orang ini
Taufiq Kiemas, anak geng yang 'bertobat' karena Bung Karno
Bendera setengah tiang mengenang Taufiq Kiemas berkibar di China
Di penjara Orba, TK punya firasat Mega akan menjadi istrinya
Kisah Mahfud MD diberi jas & dasi mahal oleh TK agar gagah