Kisah pedih bayi empat bulan korban kecelakaan di Yogyakarta
Tsafiq harus berjuang melawan rasa sakit akibat pendarahan hebat di bagian kepala. Dia sempat tak sadarkan diri dan harus dioperasi. Lebih menyedihkan, kedua orang tua Tsafiq meninggal dunia akibat kecelakaan tersebut.
Muhammad Tsafiq Dirga Triskanadifan terbaring lemah tak berdaya di RSUP Dr Sardjito. Di usianya yang masih 4 bulan, Tsafiq harus berjuang melawan rasa sakit akibat pendarahan hebat di bagian kepala. Pendarahan itu terjadi karena kecelakaan yang menimpanya.
Lebih menyedihkan, kecelakaan yang terjadi di Jalan Magelang, Sleman, DIY pada 22 Desember lalu membuat bayi yang baru belajar tengkurap ini menjadi yatim piatu. Kedua orang tua Tsafiq meninggal dunia karena kecelakaan itu.
Masih lekat diingatan Takas Prasetianto (25), kakak sepupu Tsafiq, momen terakhir sebelum kedua orang tua Tsafiq, Sutrisno (34) dan Sri Kanthi Prihatin (34) mengajak Tsafiq berkunjung ke rumah saudara di daerah Mlati, Sleman. Tsafiq dengan diboncengkan sepeda motor oleh kedua orang tuanya berangkat dari rumahnya di Mancasan, Umbulharjo, Yogyakarta.
"Saat melintas di Jalan Magelang, motor yang dikendarai ditabrak mobil dari arah berlawanan. Mereka sempat terseret beberapa meter dari tempat kecelakaan," ujar Takas saat ditemui Merdeka.com beberapa waktu yang lalu.
Akibat kecelakaan tersebut, ayah Tsafiq, Sutrisno meninggal dunia di lokasi. Sedangkan ibunya, Sri Kanthi Prihatin mengalami luka serius dan sempat dibawa ke RSUP Dr Sardjito, sayang nyawanya tidak tertolong. Sementara Tsafiq yang tak sadarkan langsung dilarikan ke RSUP Dr Sardjito. Tsafiq tak mengalami luka karena dipeluk erat oleh ibunya, Sri Kanthi Prihatin.
"Mungkin Tsafiq baru terlepas dari pelukan ibunya saat ibunya sudah hilang kesadaran setelah terseret mobil. Sehingga tidak ada luka apapun di Tsafiq. Tapi mungkin kepalanya sempat terbentur sehingga ada pendarahan dan membuat Tsafiq tak sadarkan diri," ungkap Takas.
Kepala Humas dan Bagian Hukum RSUP Dr Sardjito Trisno Heru Nugroho menceritakan, kondisi Tsafiq saat dibawa ke RSUP Dr Sardjito cukup parah. Tsafiq langsung dilakukan penanganan oleh tim dokter. Korban mengalami luka parah hingga harus dirawat di High Care Unit (HCU). Tubuh Bayi mungil ini harus mendapatkan bantuan beberapa peralatan medis untuk menyelamatkan nyawanya. Mulai dari pemasangan ventilator hingga untuk memantau perkembangan organ tubuhnya.
"Hampir seluruh tim dokter yang berkompeten, berusaha keras menyelamatkan bayi malang itu, karena jika melihat lukanya cukup sulit untuk diselamatkan. Dia dirawat oleh tim dokter yang terus berusaha menyelamatkan, karena jika dilihat dari lukanya cukup parah," terang Heru saat ditemui Merdeka.com, Selasa (10/1).
Usaha demi usaha tim dokter membuahkan hasil. Tepat saat masyarakat merayakan tahun baru atau 1 Januari 2017, kondisi Tsaqif menunjukkan perkembangan cukup baik. Meski belum sepenuhnya sadar, dia sudah mulai merespon jika dibelai. Dia juga sudah bisa membuka matanya.
"Selang ventilatornya pun sudah mulai dicopot, karena paru-parunya sudah mulai bekerja. Dua buah alat pengantar oksigen atau cannula dua buah masih dipasang ke hidung," kata Heru.
Meskipun demikian, kondisi Tsafiq ketika itu belum sadar 100 persen. Tim dokter pun melakukan observasi pada Tsafiq. Berdasarkan hasil CT-Scan yang dilakukan ternyata ditemukan masih ada gumpalan di otak Tsafiq.
"Tim medis pun melakukan operasi untuk mengeluarkan gumpalan itu. Tim dokter akan melalukan pemasangan VP-Shunt (ventrikulo peritoneal shunting) yaitu memasang selang dari otak langsung dihubungkan ke perut. Nanti cairan itu akan terbuang jadi kotoran. Operasi ini biasa dilalukan oleh dokter untuk kasus bayi penderita Hydrosefalus" papar Heru.
Heru menuturkan bahwa operasi yang dilakukan pada Selasa (10/1) ini langsung dipimpin Dokter Handoyo Pramusinto, spesialis bedah syaraf konsultan. Dengan operasi ini nantinya cairan di kepala korban dapat segera keluar sehingga mengembalikan kesadaran Tsaqif secara penuh.
"Kami berharap Tsafiq bisa segera pulih kesadarannya dan bisa kembali berkumpul dengan keluarga," harap Heru.
(mdk/noe)