Kisah Mujiati di Antara Sisa Beras 3 Kg dan Rumah yang Ambruk 'Diamuk' Gempa
Timba yang selama ini digunakan menjadi tempat penyimpan beras. Gempa bumi bermagnitudo 6,1 membuat dapurnya roboh hingga mengubur stok berasnya yang tinggal sekitar tiga kilogram.
Mujiati (50) menggali reruntuhan batu bata bekas dapur rumahnya. Sebuah timba atau ember plastik berukuran besar yang terkubur berhasil diambil. Beberapa serpihan batu bata masuk di dalamnya.
Timba yang selama ini digunakan menjadi tempat penyimpan beras. Gempa bumi bermagnitudo 6,1 membuat dapurnya roboh hingga mengubur stok berasnya yang tinggal sekitar tiga kilogram.
Janda empat anak itu tetap tersenyum sambil mengangkat timba yang sudah pecah. Salah satu tetangganya buru-buru mengambil sebuah baki. Beras yang tersisa langsung dituangkan.
"Nanti dibersihkan, masih bisa dimasak," ungkap Mujiati.
Beras itu dibawa ke tetangga samping rumah. Sebagai tempat menumpang sementaranya. Seluruh barang-barang milik Mujiati yang masih dapat dimanfaatkan dititipkan di rumah warga bernama Giman.
"Saya ngemper di rumah tetangga sini," ungkapnya.
Mujiati dan keluarga tinggal di RT 08 RW 01 Dusun Krajan, Desa Majang Tengah, Kabupaten Malang. Rumah Mujiati roboh dan beberapa sisi temboknya rusak berat. Genting rumahnya berjatuhan hingga tidak dapat ditempati lagi.
Para tetangga secara gotong royong menurunkan semua genting rumah dan mengumpulkan barang yang masih dapat dimanfaatkan. Batu bata yang masih utuh dikumpulkan di depan rumah. Begitu juga dengan perabot rumah tangga dan pakaian. Sedangkan material sisa reruntuhan dibuang di ujung depan rumahnya.
"Saya tidak punya apa-apa, kalau tidak ada yang bantu tidak akan bisa membangun rumah lagi," akunya.
Mujiati sehari-hari bekerja sebagai buruh tani. Dia tinggal bersama tiga anak dan cucunya. Saat gempa terjadi, salah satu anaknya yang lain menjenguk bersama cucunya.
Ketika asyik bercengkerama getaran itu dirasakan dan semakin kencang. Mereka berlarian ke luar rumah. Delapan orang di emperan rumah itu langsung berhamburan menyelamatkan diri.
"Bersyukur semuanya selamat," tegasnya.
Mujiati telah menerima bantuan sembako dari Kecamatan dan Gubernur, serta uang tunai Rp200.000. Dia berharap rumahnnya dapat segera ditempati kembali. Sehingga tidak menumpang di rumah tetangga.
"Entah sampai kapan saya ngemper juga tidak tahu," ungkapnya.
Mujiati bersama empat anaknya harus menumpang di rumah tetangga, sementara anaknya diajak suaminya tinggal di rumah besan.
(mdk/noe)