Kisah mistis di balik ogoh-ogoh celeng karya banjar Tenten
Pernah masyarakat banjar Tenten membuat ogoh-ogoh raksasa seketika warga desa banyak yang kesurupan.
Dari sekian banyak kreasi ogoh-ogoh karya masyarakat Bali, banjar Tenten atau desa Tenten mempunyai kreasi dan tradisi ogoh-ogoh unik. Di banjar atau desa ini, pantang membuat ogoh-ogoh menyerupai raksasa atau sejenisnya.
Masyarakat di banjar Tenten yang terletak di Jalan Imam Bonjol ini, justru harus membuat ogoh-ogoh berbentuk celeng atau babi hutan. Tradisi membuat ogoh-ogoh celeng ini sudah berlangsung turun temurun dan dipercaya mempunyai kekuatan mistis.
"Dulu sempat muda-mudi disini buat ogoh-ogoh raksasa. Sampai akhirnya, seluruh pemuda yang mengangkat ogoh-ogoh itu kesurupan dan berkelahi sesama teman sendiri. Mereka saling pukul sampai kecapean tapi tidak satupun ada yang terlihat bekas luka. Ternyata itu petaka bahwa membuat jenis ogoh-ogoh selain bentuk celeng," terang I Komang Sayang, Ketua ST Yowana Dharma Wiguna, banjar Tenteng, Jumat (20/3) di Denpasar.
Dari kejadian itu lah, banjar Tenten dipastikan selalu membuat ogo-ogoh berbentuk celeng. Namun demikian tidak menutup kemungkinan membuat ogoh-ogoh bentuk lain, asal tetap mempertahankan keberadaan ogoh-ogoh celeng.
"Pernah juga kami tidak membuat ogoh-ogoh karena tidak ada dana. Dan itu tidak masalah. Karena titahnya, buat boleh asal ada bentuk celeng atau tidak sama sekali," lanjut Sanyang.
Sayang mengatakan untuk tahun baru Saka 1937 kali ini, mengisahkan tentang babi ngamuk. Amarah babi yang membabi buta melihat alam yang semakin penuh rusak.
"Babi kali ini yang kita wujudkan dalam ogoh-ogoh tentang keangkaramurkaan binatang celeng," jelasnya.
Kenapa harus celeng? sesepuh Tenten, Rugik menjelaskan, "Sebelum wilayah ini padat penduduk dan penuh bangunan. Tempat ini menjadi 'bangkungan' (kubangan) yang penduduknya lebih banyak berternak babi dan dilepas begitu saja,"
Pertama kali ogoh-ogoh dibuat di banjar ini memang bentuknya babi atau celeng. Bukan karena pawisik (bisikan gaib lewat orang pintar), tetapi hanya itu yang bisa dibuat kala itu. Bahannya dari jerami dan anyaman bambu.
"Awal pertama kita buat ogoh-ogoh dengan jerami, ya memang bentuk babi. Karena cuma itu yang bisa dan gampang. Akhirnya jadi keterusan buat bentuk babi, kalau lain bentuk anak-anak takut tulah. Saya tidak tahu, kenapa jadi tulah," jelasnya.
Baca juga:
Ogoh-ogoh selfie jadi pusat perhatian warga Bali
Jelang Nyepi, warga di Bali geruduk swalayan
Ribuan umat Hindu di Yogya peringati nyepi di Candi Prambanan
Malam Tahun Baru Caka, tenaga medis di Bali tetap siaga
Tol di Bali ditutup selama 31 jam saat Nyepi
Ribuan umat Hindu Bali gelar ritual Melasti di Pantai Kuta
Jelang Nyepi umat Hindu di Bali gelar penyucian 'Pratima' di pantai