Kisah mereka yang terkena virus KPop
Sebagai bentuk kecintaan pada musik KPop, mereka rela merogoh sampai jutaan hanya untuk menonton konser.
Demam KPop benar-benar sedang mewabah. Berbagai macam cara atau style ditampilkan para KPop lover untuk mengekspresikan kecintaan mereka pada artis-artis baik girlband maupun boyband asal Korea. Mulai dari model rambut, gaya berpakaian, membentuk fans base, meniru tarian, sampai merogoh kocek berapa pun demi menonton konsernya.
Seperti yang diceritakan salah satu ELF (sebutan fans boyband Super Junior) bernama Lulu. Lulu sudah menjadi fans setia Super Junior (Suju) sejak tahun 2007. Sebagai bukti kecintaan Lulu, dia pun mengumpulkan semua CD dan poster original Suju. Bahkan dia rela merogoh koceknya Rp 8-9 juta untuk terbang ke Korea demi menonton SuShow 2 (konser Suju).
"Hal paling gila nonton di Korea, ikut tour tapi keluar dari tim tour gara-gara mau nonton Suju. Habis uang Rp 8-9 juta. Aku kasih kado batik juga ke mereka bertiga belas," cerita Lulu sambil tertawa saat berbincang dengan merdeka.com via telepon, Minggu (22/4).
Tak puas menonton langsung di Korea, Lulu pun sudah menyiapkan budget untuk menyaksikan konser Suju di Indonesia yang rencananya digelar pekan depan. Dia sudah mengantongi tiket seharga Rp 1,7 juta.
"Saya ngantre dari jam 6 sore sampai jam 1 dini hari," kenangnya.
Kecintaan Lulu bukan hanya sebatas menonton konser atau mengumpulkan poster dan CD. Dia juga ikut terlibat mendirikan berbagai fans base Suju, mulai dari Suju Indonesia, Elf united, Elfina dan lain-lain. Gadis yang berniat mencium idolanya jika bertemu nanti mengklaim, sekitar 3 ribuan orang telah sudah terdaftar di klub ELF.
Bukan hanya Lulu yang tenggelam dalam virus KPop. Seorang remaja bernama Silvi juga mengekspresikan berbagai cara untuk menunjukkan kecintaannya pada budaya pop Korea dengan bergabung dalam grup Ruang Kaca.
Grup ini adalah grup yang menirukan tarian dan nyanyian Korea dan Jepang dengan dibalut dengan kostum-kostum unik. Meski berawal dari hobi, grup ini punya deretan prestasi yang datang dari luar dan dalam negeri. Salah satu yang mereka banggakan datang dari Arirang.
"Dua tahun berturut-turut kami mendapat award dari salah satu televisi swasta Korea, Arirang, dalam kompetisi video tingkat dunia." kata Silvi bangga.
Beranggotakan 15 orang, Ruang Kaca terus mengembangkan karir, meski mereka harus mendanai kelompok ini secara sukarela yang dikutip dari tiap-tiap anggota. Mereka percaya cover KPop tetap akan menawarkan hal yang menarik.
"Dance dari KPop itu sangat keren dan untuk vocal cukup bagus dan lagu-lagunya juga enak didengar. Selain itu style mereka juga sangat keren. Secara cover KPop bisa dibilang menawarkan paket yang cukup lengkap dan menarik," jelasnya.
Di balik ekspresi para fans KPop, ternyata ada cerita mengejutkan. Banyak fans yang berlebihan dalam mengungkapkan rasa cinta mereka. Lulu membenarkan adanya saling serang antar fans dalam dunia maya. Namun dirinya mengaku tak pernah terlibat di dalamnya.
"Ga ikutan nge-bash. Karena aku tidak enak dilihat sama fans lain. Ga enak efeknya juga," jelas Lulu.
Silvi pun sependapat. Menurutnya, dia bersama teman-teman Ruang Kaca memilih mengekspresikan dengan meng-cover dance artis yang mereka sukai.
"Kami menyukai dance, musik, style mereka. Tapi kami tidak sampai menangis atau nyubit, menjambak atau mengejar-ngejar mereka ke bandara. Kami mengekspresikan rasa suka kami dengan mempelajari dance dan lagu mereka," ujar Silvi yang merupakan lulusan Sastra Korea UI ini mantap.
Bagaimanapun juga, sebagai fans harusnya bersikap baik dan positif dalam mengekspresikan rasa suka mereka. Toh, artis pun akan merasa senang dan nyaman jika punya fans sopan seperti Lulu dan Silvi.(mdk/lia)