LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kisah Mami Indah, germo yang jual ABG tetangganya

Berikut ini kisah Mami Indah, germo yang jual ABG tetangganya sendiri:

2014-09-26 06:00:00
Prostitusi
Advertisement

Subdit Renakta (Remaja, Anak dan Wanita) Ditreskrimum Polda Jawa Timur mengamankan dua penyedia pekerja seks komersial (PSK) atau germo yang biasa beroperasi di wilayah Surabaya Timur.

Dua germo yang diciduk anggota Polda Jawa Timur itu adalah Mami Indah (42) dan Papi Aman (25). Keduanya sama-sama tinggal di daerah Sukolilo, Surabaya.

Namun, polisi lebih dulu mengamankan Papi Aman pada Agustus lalu. Kemudian, pada 17 September, polisi kembali menangkap satu tersangka yang juga warga Sukolilo, yaitu Mami Indah.

"Keduanya beda jaringan, tapi memiliki modus yang sama dan kebetulan tinggal di daerah yang sama pula, di Jalan Sukolilo," terang Kasubdit PID Bid Humas Polda Jatim AKBP Aziza Hani, Rabu (24/9).

Berikut ini kisah Mami Indah, germo yang jual ABG tetangganya sendiri:

Mami Indah jual gadis di bawah umur

Hasil Penyelidikan Polda Jawa Timur, Mami Indah memiliki tiga anak buah yang biasa melayani pria hidung belang. Salah satu anak buahnya tergolong masih di bawah umur, yaitu berusia 16 tahun.

"Untuk Papi Aman sendiri memiliki lima anak buah. Modus kejahatannya, para pelanggan kedua tersangka adalah orang-orang yang sudah dikenal baik oleh para tersangka," lanjut Hani.

Dalam setiap penjualan, para lelaki hidung belang menghubungi tersangka melalui telepon selulernya. Selanjut, setelah ada kesepakatan harga, para tersangka langsung mencarikan wanita-wanita sesuai dengan pesanannya.

Advertisement

Gadis yang dijual anak tetangga sendiri

Kasubdit PID Bid Humas Polda Jawa Timur, AKBP Aziza Hani, mengatakan Mami Indah menjajakan anak tetangganya sendiri asal mendapat untung lebih. Bahkan, dia tak peduli meski yang dijualnya ke pria hidung belang masih berusia 16 tahun.

"Tersangka sudah satu tahun menekuni bisnis esek-eseknya ini. Pelanggannya adalah orang yang dikenal. Untuk korbannya sendiri, mulai dari tetangga sampai teman korban, yang membutuhkan tambahan penghasilan," ujarnya, Rabu (24/09).

Setelah menemukan wanita yang diinginkan, transaksi berlanjut di sebuah kamar hotel yang sudah disepakati. "Biasanya, mereka melakukan transaksi di hotel berbintang yang ada di kawasan Surabaya Timur," kata Humas Polda Jawa Timur, AKBP Aziza Hani.

Advertisement

Mama Indah minta jatah 70 persen setiap transaksi

Dari tiap menerima pesanan, Mama Indah menawarkan tiga pekerja seks komersial (PSK) dengan harga antara Rp 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Dari harga itu, dia mendapat untung 70 persen dan sisanya untuk si PSK.

"Mengenai tarif yang dikenakan setiap melakukan esek-esek, antara Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. Uang itu bukan termasuk biaya hotel. Karena untuk biaya hotel, dikenakan kepada pelanggan," kata AKBP Aziza Hani.

Dan dari tarif tersebut, tersangka mengambil untung 70 persen, sedangkan 30 persen menjadi hak korban.

Mama Indah juga pemilik kantin SMK di Surabaya

Selain sebagai mucikari, Mami Indah ternyata juga diketahui sebagai pemilik kantin di salah satu sekolah SMK di Surabaya. Namun ibu dua anak ini tak peduli menjajakan anak tetangganya sendiri asal mendapat untung lebih.

Bahkan, dia tak peduli meski yang dijualnya ke pria hidung belang masih berusia 16 tahun.

Ditanya soal apakah ada kaitannya soal penutupan Dolly dan Jarak oleh Pemkot Surabaya, AKBP Aziza Hani menegaskan kalau kini polisi masih melakukan pendalaman.

"Yang jelas, tersangka ini kita ketahui sebagai penjual makanan dan minuman di kantin salah satu sekolah yang ada di Surabaya," katanya.

Diduga akibat penutupan Dolly

Polisi tidak menampik segala kemungkinan penyebab kasus mucikari Mama Indah. Termasuk kalau anak buah tersangka ini berkaitan dengan penutupan Dolly dan Jarak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan.

Sebab, menurut AKBP Aziza Hani, rata-rata anak buah Mami Indah mau melayani pria hidung belang karena faktor ekonomi.

"Kemungkinan bisa saja, apalagi ini kan ada faktor ekonomi. Tapi untuk saat ini, kami belum bisa memastikan, apakah para PSK-nya adalah eks-lokalisasi Dolly dan Jarak. Jadi tidak menutup kemungkinan hal itu terjadi," ucapnya.

(mdk/mtf)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.