LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kisah-kisah lucu demonstran bayaran

Demo mendapatkan massa lebih banyak, pentolan aksi merekrut warga untuk ikut. Ternyata hasilnya tak sebanding.

2015-09-10 06:44:00
Demo
Advertisement

Aksi demonstrasi merupakan hak demokrasi yang dimiliki oleh seluruh elemen masyarakat di Indonesia. Bahkan, negara di dalam Undang-undang Dasar 1945, pasal 28 E ayat 3, telah menjamin mengenai kebebasan berserikat, berkumpul dan mengeluarkan pendapat.

Namun ternyata, keleluasaan untuk mengemukakan pendapat yang biasanya diungkapkan melalui kegiatan berunjuk rasa tersebut, masih saja dimanfaatkan sebagian orang untuk sebuah keuntungan dan kepentingan.

Alih-alih mengumpulkan orang-orang yang sependapat dan paham masalah yang akan didemonstrasikan, sebagian orang justru menggunakan jasa dari para agen pengumpul massa aksi, yang rela dibayar murah untuk berpanas-panasan melakukan aksi demo demi menuntut hal-hal yang 'dipesan' oleh pihak yang mensponsori mereka.

Dari sekian banyak kisah unik para massa aksi bayaran tersebut saat di lapangan, kali ini merdeka.com akan menyajikan beberapa keluhan dan celetukan langsung dari para massa aksi yang protes, lantaran merasa bayarannya tak sesuai dengan perjanjian koordinator aksi sebelum mereka melakukan demo tersebut.

Telat salat, massa aksi ini mengaku rugi dua kali lipat

Sejumlah massa yang menamakan diri mereka Masyarakat Anti Korupsi (Mars), menggelar aksi di depan Balai Kota DKI Jakarta pada 31 Maret 2015 silam. Aksi yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) itu, meminta sang gubernur mundur dari jabatannya dan meminta maaf pada seluruh warga Betawi, terkait penamaan sapi USB (Unit Sapi Betawi) ketika menghadiri kegiatan inseminasi, di Peternakan PT Karya Anugerah Rumpin, di Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat sebelumnya.

Di tengah aksi, seorang orator merasa kesal dan mengaku telah rugi dua kali lipat. Pasalnya, selain telah meninggalkan salat dan hanya dibayar Rp 50.000 dalam aksi tersebut, dirinya pun mengaku sangat kecewa karena tidak berhasil bertemu dengan Ahok.

"Udah gocap, gini doang. Udah enggak ketemu Ahok, salat kagak. Rugi dua kali lipet nih gua," ujar seorang orator yang tidak diketahui namanya, di depan Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/3).

Selain itu, sang orator itu pun mengungkapkan kekecewaannya karena massa aksi yang hadir sedikit, karena memang pada awalnya mereka berniat menggandeng Front Pembela Islam (FPI) untuk meraih dukungan yang lebih besar. Dirinya bahkan mengaku sempat ada oknum yang memprovokasi, agar aksi mereka berujung rusuh. Namun, ia kembali berujar bahwa dirinya kapok karena pernah ditangkap saat aksi sebelumnya.

"Udah ah, balik aja lah. Lagian tadi mau bawa FPI enggak boleh, besok bawa aja dah. Tadi ada yang teriak chaos-chaos. Giliran gue di dalem (penjara), lebaran di dalem, lu di luar. Ogah gue masuk barakuda lagi," cetusnya hingga membuat orang di sekelilingnya tertawa.

Advertisement

Dijanjikan hanya sampai siang, pendemo ini protes tak dapat konsumsi

Pada masa-masa kampanye pilpres 2014 lalu, sejumlah massa aksi yang diakomodir oleh tim koordinator lapangan pasangan Prabowo-Hatta, menggeruduk Gedung Mahkamah Konstitusi guna menyampaikan tuntutannya terkait pilpres 2014 tersebut. Dari ribuan pendemo, salah seorang pengunjuk rasa bernama Aminah, mengeluh tidak mendapat makanan dan minuman.

Dirinya mengaku, hanya diajak untuk ikut aksi hingga siang hari, dengan dijanjikan uang Rp50 ribu per orang. Namun, Wanita paruh baya asal Tanah tinggi, Johar baru, Jakarta Pusat itu, mengaku hanya menyepakati untuk ikut aksi sampai siang hari, dan mendapatkan jatah makan siang.

"Rp 50 ribu itu kami cuma sampai pukul 12.00 WIB di perjanjiannya. Jadi, kami tidak ikut serta ke Gedung DPR. Tapi masa enggak dapat logistik untuk makan dan minum," ujar Aminah, Rabu (6/8/2014) silam.

Aminah merupakan salah satu massa aksi yang direkrut untuk mengikuti demo di depna gedung MK. Saat itu, rencananya mereka akan mendatangi gedung DPR Senayan, untuk bertemu ketua DPR RI saat itu, Marzuki Ali.

Advertisement

Demo lama dan bayaran kecil, massa aksi dan sopir bis protes

Kisah lucu para pendemo bayaran juga dapat ditemui saat sekelompok massa, menggeruduk kantor Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkum HAM) guna menyoroti kinerja Menteri Yasonna Laoly, Kamis (19/3/2015) silam. Namun, demo yang diikuti hanya oleh 30 orang itu, terlihat lesu karena sebagian besar pendemo hanya duduk-duduk lemas di trotoar.

Seorang massa aksi bernama Ijal mengaku, dirinya ogah untuk bertindak aktif dalam aksi tersebut, karena bayarannya dirasa tak sebanding dengan tenaga yang harus mereka keluarkan.

"Ini dikasih Rp 25 rebu, enggak sebandinglah! Kalau jadi tukang parkir sudah dapat beberapa puluh ribu rupiah. Ini malah tidak dikasih makan, kelamaan nih!" ujar Ijal saat ditemui di lokasi demo.

Tidak hanya Ijal, pengemudi Metromini bernama Ade yang disewa rombongan itu juga mengeluh, karena waktu penyewaan busnya telah melebihi waktu yang telah disepakati dengan bayaran Rp 350 ribu tersebut.

"Ini lama! Sudah rugi trayek, uangnya juga belum dibayar," ujar Ade.

Tak tahu tujuan, Lastri tiba-tiba diajak demo di Bandara

Sekitar 30 orang yang menunggu kedatangan Ketua DPR Setya Novanto di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (9/9) siang, dibubarkan Polres setempat. Massa yang membawa spanduk bertuliskan 'Selamat Datang Tim Kampanye Donald Trump' itu datang dengan mengenakan bus, termasuk di antaranya anak kecil dan ibu-ibu berusia lanjut.

Namun, aksi demo yang digelar tanpa izin pihak kepolisian itu pun akhirnya dibubarkan aparat, dan ke-30 orang itu pun diangkut ke Mapolres Jakarta Utara dengan menggunakan bus Polres Metro Bandara Soekarno-Hatta. Bahkan, beberapa 'pentolan' nya pun diperiksa lebih mendalam.

Salah seorang massa aksi bernama Lastri mengaku, dirinya tak tahu apa-apa mengenai apa yang di demonstrasikan rombongannya itu. Dirinya mengaku hanya diajak oleh temannya, tanpa tahu maksud dan tujuan ke mana bus massa aksi tersebut akan berangkat.

"Yang ngajak temen, ikut saja. Tahunya ke Jakarta," ujar Lastri yang mengaku dari Bogor.

Diketahui, ke-30 massa aksi tersebut berasal dari sejumlah daerah, antara lain Bogor, Pamulang, dan Jakarta. Usai dilakukan audiensi dengan Kapolres, mereka akhirnya dipulangkan kembali ke titik awal dimana mereka kumpul sebelumnya.

(mdk/tyo)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.