LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kisah Euis Rohayati, Pedagang Tahu Berjuluk 'Polisi' TBC dari Garut

Berawal dari keikutsertaannya dalam pelatihan tentang tuberkulosis (TBC) tahun 2012 di organisasi Aisyiah, Euis Rohayati (53), warga terus mencari dan membantu warga yang menderita TBC.

2020-02-02 00:12:56
Tuberkulosis
Advertisement

Berawal dari keikutsertaannya dalam pelatihan tentang tuberkulosis (TBC) tahun 2012 di organisasi Aisyiah, Euis Rohayati (53), warga terus mencari dan membantu warga yang menderita TBC. Karena keseriusannya itu, warga mendapat julukan dari warga Garut sebagai Polisi TBC.

Ditemui di Klinik Darul Arqam, Euis saat itu tengah mengantar seorang balita yang belum berusia satu tahun. Balita itu dinyatakan positif TBC. Dia bercerita bahwa sang balita mendapatkan penyakit itu karena tertular dari ayahnya.

"Saat itu ayahnya tidak tahu kalau dia positif TBC sehingga berinteraksi secara langsung dengan anaknya yang masih bayi. Rupanya interaksi tersebut menjadikan penyakit TBC itu menular kepada anaknya yang masih kecil," ujarnya, Sabtu (1/2).

Advertisement

Sejak dinyatakan mengidap TBC, balita dan orang tuanya itu rutin diantar Euis untuk berobat. Euis mengaku sudah mencari dan mengantar penderita TBC berobat sudah dilakukan sejak November 2012. Hingga saat ini, dia menyebut sudah mengantar 447 warga yang diduga menderita TB.

"Dari jumlah tersebut 93 orang dinyatakan positif TBC sehingga harus diobati dan sisanya hanya suspect saja. 89 orang sudah sembuh alhamdulillah dan 4 orang lainnya hingga saat ini sedang mendapatkan pengobatan," jelasnya.

Advertisement

Aksi Euis Menghadapi Tantangan

Selama menjadi 'polisi' TBC di Garut, tidak jarang dia dihadapkan dengan tantangan. Contohnya penolakan warga suspect TBC. Namun enggan diajak diperiksa bahkan berobat.

Tak hanya itu saja, di awal-awal aksinya, tidak sedikit Puskesmas yang menolak mengobati pasien yang dibawanya karena keterbatasan sarana. "Kalau sekarang mah hampir semuanya sudah bisa, dulu mah karena kurang fasilitas banyak yang menolak," ungkapnya.

Wanita yang sehari-hari berjualan tahu di Pasar Guntur Garut ini menjelaskan bahwa di daerah itu, warga paling banyak menderita TBC rata-rata tingkat ekonominya menengah ke bawah. Kondisi tersebut dikuatkan dengan kondisi lingkungan tempat tinggalnya yang kotor dan kumuh karena berada di kawasan padat penduduk.

Para penderita TBC, kata Euis, kebanyakan berprofesi sebagai buruh pasar, sopir angkot, pedagang kecil hingga pengangguran. "Namun memang secara umum penyebabnya adalah lingkungan yang kumuh ditambah pemahaman tentang kebersihan yang sangat kurang," jelasnya.

Kepedulian terhadap TBC di kalangan masyarakat, menurutnya, sangat minim. Padahal penyakit mematikan itu lebih bahaya dari HIV. Hal tersebut dia lontarkan karena penularannya bisa langsung kepada 10 hingga 15 orang.

Yang terjadi kemudian, muncul anggapan bahwa TBC adalah penyakit biasa. Meski demikian, dia mengaku tidak pernah merasa lelah untuk terus mencari dan mengubah pandangan warga soal bahaya penyakit TBC.

Dia bercerita pernah melakukan pendekatan selama tiga tahun kepada penderita TBC agar mau berobat. Pola pendekatan pun tidak hanya secara langsung saja, tetapi juga melalui keluarga, tetangga bahkan ketua RT dan RW.

"Ya memang pendekatan kepada penderita TBC ini tidak mudah. Kalau saya kasih tahu malah dibilang so tahu dan malah memarahi. Tetapi sekarang Alhamdulillah banyak yang mengerti bahkan tidak sedikit orang yang menyebut saya polisi TB karena seringnya mencari dan mengajak juga mengantar warga untuk berobat TBC," paparnya.

Data Penderita TBC di Jabar

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Kabupaten Garut diketahui merupakan salah satu kabupaten dengan target penemuan kasus TBC yang cukup tinggi di Jawa Barat. Penemuan kasus TBC masih belum mencapai target dari estimasi penderita TBC sekitar 8.033 kasus per tahun.

Penemuan kasus TB sejak 2015 hingga 2018 cenderung meningkat. Tahun 2015 ditemukan 2.559 kasus. Jumlah itu meningkat menjadi 2.727 kasus pada 2016. Sedangkan pada 2017 ada 3.170 kasus TBC. Di 2018 ada sedikit penurunan kasus menjadi 3.079 kasus. Pada tahun 2019 dari estimasi penderita 5.845 orang dan baru ditemukan 3.662 orang.

Selama mencari hingga mengantar penderita TBC, Euis mengaku tidak pernah dibayar oleh pemerintah. Namun dia menyebut bahwa ada salah satu lembaga dari luar negeri yang ikut membantunya dengan memberikan Rp30 ribu setiap menemukan penderita positif TBC.

"Alhamdulillah bisa membantu untuk ongkos saat mengantar berobat pasien," ucapnya.

Apresiasi dari Jokowi

Sebelum mendapatkan bantuan, Euis mengaku ongkos untuk melakukan aksinya memakai saku pribadi. Dia tidak pernah berharap uang yang sudah dikeluarkannya diganti oleh siapa pun. Dalam hatinya, Euis hanya ingin mengabdi dan peduli kepada masyarakat.

Beberapa waktu lalu, Euis mendapatkan undangan dari Presiden Joko Widodo di Cimahi dalam acara Gerakan Bersama Menuju Eliminasi TB 2030. Dia berharap, masyarakat penderita TBC tak perlu malu untuk berobat.

"TBC itu memang penyakit menular, napi bisa diobati dan disembuhkan. Jangan sungkan untuk memeriksakan kondisi ke Puskesmas," tutupnya.

(mdk/ray)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.