Ketua AMSI: Harus Ada Insentif buat Media Kerja Benar Dibanding yang Copy Paste
Era digital seperti saat ini telah memudahkan siapa saja untuk memproduksi konten. Atau dengan kata lain, siapa saja bisa membuat media. Media-media tersebut masuk di dalam ekosistem yang sama dengan media mainstream.
Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wenseslaus Manggut menegaskan pentingnya insentif bagi pihak-pihak yang memproduksi konten berkualitas. Hal ini bisa menjadi salah satu langkah untuk menghadapi persoalan hoaks dan hate speech.
Era digital seperti saat ini telah memudahkan siapa saja untuk memproduksi konten. Atau dengan kata lain, siapa saja bisa membuat media. Media-media tersebut masuk di dalam ekosistem yang sama dengan media mainstream.
Persoalannya media mainstream sangat terikat pada aturan seperti UU. Sedangkan, media-media yang tumbuh subur di platform media sosial tidak diatur. Misalnya soal konten yang diproduksi.
"Di dalam ekosistem harus ada insentif untuk menjadi berkualitas. Selama tidak ada insentif untuk menjadi berkualitas, maka keluhan kita akan selalu ada," ujar dia dalam diskusi Trijaya FM, Sabtu (23/10).
"Kalau tidak ada insentif untuk saya yang bekerja secara benar dibandingkan orang yang copy paste kontennya saya, dia copy saja diramu-ramu. Disebarkan," lanjut dia.
Insentif, lanjut Wens, bisa berupa regulasi. Langkah yang sama sudah dijalankan oleh negara tetangga seperti Australia. "Australia mereka keluar dengan News Media Bargaining Cost. Regulasi yang dibuat pemerintah Australia untuk melindungi hak cipta. Untuk melindungi orang-orang yang bekerja dengan benar itu," tegasnya.
"Tujuan regulasi salah satunya itu. Walaupun tujuan ke industri bisnis. Tapi saya kira tujuan yang lain adalah mencegah keluhan yang tadi disampaikan mas Yan itu soal hoaks dan hate speech itu," imbuhnya.
Tentu saja regulasi tersebut tidak hanya mengatur soal copy right. Lebih dari itu, regulasi bisa mengatur sejumlah hal terkait penyebaran informasi di era digital.
"Mungkin itu salah satu halnya saja. Tapi sebetulnya pertanyaannya besarnya apakah yang kita keluhkan kita rasakan soal hoaks dan hate speech apa perlu melakukan perbaikan dalam ekosistem ini, jawabannya kalau Australia bilang perlu," katanya.
"Harus ada campur tangan regulasi. Walaupun dia harus hati-hati betul. Jangan sampai menghambat sisi kebebasannya, tapi memastikan playing field-nya fair untuk semua," katanya.
Baca juga:
IDC AMSI 2021 Angkat Tema Inovasi dalam Penguatan Ekonomi Digital
11 Media Siber Deklarasi AMSI Wilayah Kepri
75 Peserta Ikut Pelatihan Penguatan Bisnis Media Online Digelar AMSI
AMSI akan Luncurkan Crisis Center untuk Bantu Pekerja Media Terpapar Covid-19
Rikando Somba-Yulis Sulistyawan Kembali Pimpin AMSI DKI Jakarta
AMSI Salurkan Bantuan 2.725 Suplemen dari Pyridam Farma untuk Jurnalis