Ketika proxy war bikin Timur Tengah jadi medan pertempuran
Ketika proxy war bikin Timur Tengah jadi medan pertempuran. Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo sudah sejak jauh-jauh hari mewanti-wanti mengenai bahaya proxy war. Perang ini terjadi tanpa menjelaskan aktor di baliknya, termasuk menentukan kawan maupun lawan yang dihadapi.
Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo sudah sejak jauh-jauh hari mewanti-wanti mengenai bahaya proxy war. Perang ini terjadi tanpa menjelaskan aktor di baliknya, termasuk menentukan kawan maupun lawan yang dihadapi.
Dalam beberapa kesempatan, Gatot menyebut perang proxy merupakan kepanjangan tangan suatu negara berupaya mendapatkan kepentingan strategisnya di negara lain. Namun, mereka menghindari keterlibatan secara langsung dengan menggelar perang yang mahal dan berdarah.
Perang ini pernah dialami Indonesia saat Timor Timur lepas dari NKRI. Saat itu, banyak pihak yang terlibat, hingga menyebabkan pemberontakan bersenjata, diplomasi sampai terjadinya referendum.
Saat berbicara di depan mahasiswa Universitas Indonesia awal Agustus lalu. Proxy war ini sudah berjalan di tanah air dalam beragam bentuk, mulai dari gerakan separatis, demonstrasi massa, regulasi yang merugikan hingga bentrokan antar kelompok.
"Demonstrasi yang membawa tuntutan tidak masuk akal dan bersifat memaksa misalnya patut dicurigai sebagai indikasinya proxy war di Indonesia," jelas Gatot kepada ribuan mahasiswa baru Universitas Indonesia (UI) di Balairung, UI, Depok, Senin (1/8).
Negara asing juga dituding mencoba memecah belah persatuan Indonesia. Caranya dengan menyebar berita provokasi, kabar bohong. Ini diketahui massif dilakukan belakangan ini saat gencar aksi demo menuntut proses hukum terhadap Ahok.
"Setelah ditelusuri intelijen, ternyata yang nyebar adalah dari Australia dan dari Amerika. Ternyata bukan dari dalam. Tujuannya tidak lain untuk memecah belah," ujar Gatot di Universitas Padjadjaran, Bandung.
Di dunia, proxy war sudah berlangsung lama, terutama negara-negara di kawasan Timur Tengah. Perang ini melibatkan dua kekuatan besar di sana, yakni Arab Saudi dan Iran.
Persaingan politik kedua negara itu menimbulkan perpecahan di negara sekitarnya, mulai dari Irak, Yaman, Lebanon hingga Suriah menjadi medan perang. Masing-masing memberikan dukungan kepada kubu berseberangan, mulai dari peralatan militer hingga dana miliaran dolar AS.
Harian The New York Times menulis, Riyadh tetap mencurigai keterlibatan Iran dalam beberapa konflik di Timur Tengah meski Negeri Para Mullah tersebut sedang vakum. Untuk mencegahnya, Negeri Petro Dolar itu menjanjikan janjian miliaran dolar kepada Yordania, Yaman, Mesir dan lainnya.
"Di Mesir, Arab Saudi diam-diam mendukung kudeta militer pada 2013, mengingat militer bisa menjadi sekutu yang diandalkan dibandingkan pemerintahan Islam. Sementara di Libia yang sempat perang saudara, dilindungi jenderal garis keras yang mengendalikan kontrol konsolidasi," demikian dikutip dari The New York Times.
Sementara Suriah lebih parah, negeri ini sedang dilanda perang saudara. Tak hanya antara tentara pemerintah dan pasukan pemberontak saja, tapi juga Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).
Hal itu diakui sendiri oleh Presiden Suriah Bashar Al Assad. Dia melihat AS ingin menggoyang Rusia sebagai salah satu kekuatan di dunia, bahkan Arab Saudi dikatakannya ikut campur untuk mengacaukan Iran.
Perang di negara itu juga melibatkan dua kekuatan besar dunia, yakni Amerika Serikat (AS) yang mendukung pasukan pemberontak dan Rusia menyokong tentara Assad. Masing-masing memberikan dukungan dalam bentuk serangan udara.
"Tentunya apa yang terlihat bukan kenyataan, karena semua orang tahu AS ingin membayangi posisi Rusia sebagai kekuatan besar di dunia, termasuk Suriah. Arab Saudi telah mencari cara bagaimana menghancurkan Iran sejak tahun ini, dan Suriah bisa menjadi salah satu tempat untuk memenuhi keinginan mereka," kata Assad dalam wawancaranya kepada media Serbia, Politika.
Tak hanya bentrok fisik, perang juga memasuki ranah media sosial. Tujuannya tidak lain untuk memengaruhi pandangan pembacanya.
Semoga, perang proxy ini tidak sampai ke Indonesia.
Baca juga:
Panglima dipanggil Presiden, kejuaraan karate se-Asia batal dibuka
Panglima TNI ajak pakai ikat kepala merah putih pada 30 November
Panglima TNI tegaskan jangan ada demo ingin jatuhkan pemerintah
Berulang kali Panglima TNI sebut AS dan Australia ancaman bagi NKRI
Proxy war, perang yang ditakuti Jenderal Gatot terjadi di Indonesia