Kenapa marak keluarga lakukan bunuh diri bersama?
Perbuatan nekat yang dilakukan keluaraga tersebut lantaran tidak ada lagi ruang untuk menampung masalah tersebut.
Satu keluarga terdiri ayah, ibu dan satu orang anak di Desa Minggiran, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, ditemukan tewas di rumahnya, pada jumat (3/4) malam. Dugaan sementara, mereka bunuh diri sekeluarga dengan meminum racun, karena tak sanggup menanggung masalah ekonomi.
Korban yang diketahui bernama Yudi Santoso (Suami), Fajar Retno (Istri) dan Ola anak mereka yang masih duduk di Sekolah Dasar, pertama kali ditemukan oleh adik kandung Yudi yang saat itu hendak berkunjung ke rumah mereka. Polisi yang menerima laporan tersebut, langsung melakukan pemeriksaan dan menemukan sepucuk surat yang isinya meminta maaf dan ingin dimakamkan dalam satu liang lahat.
Rumah tangga Yudi memang sedang goyang setelah dia tidak bekerja lagi di sebuah perusahaan farmasi dan bisnis onlinenya merugi. Diduga, Yudi mengajak keluarga menyudahi hidup dengan menenggak racun. Sosiolog Musni Umar mengatakan, kasus bunuh diri yang melibatkan keluarga ini bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Sebagai sosiolog, Musni sangat prihatin mengetahui berita tersebut.
"Tentu saya prihatin, karena keadaan seperti ini bukan kali pertama. Yang harus digarisbawahi saat ini adalah kesadaran kita sebagai masyarakat sudah tidak peka melihat penderitaan orang lain di sekitar kita. Di mana masyarakat yang tadinya saling membantu, saling peduli dan mencintai, kini sudah tidak ada lagi. Sekarang kita lebih mementingkan diri sendiri," kata Musni, ketika dihubungi merdeka.com, Sabtu (4/4).
Musni mengatakan, beban berat yang ditanggung oleh keluarga tersebut seharusnya bisa terselesaikan apabila saudara dan juga kerabat korban mau membantu permasalahan yang dihadapi keluarga tersebut. Namun sangat disayangkan, tradisi gotong royong bangsa ini sudah mulai hilang dimakan sifat egois masyarakat Indonesia.
"Ini suatu perubahan. Kita sudah dirasuki kehidupan individualitis, tidak peduli lagi dengan yang lain. Bagi yang kaya mereka tidak mau membantu masalah si miskin. Jadi satu-satunya cara bagi si miskin kalau kesulitan ya bunuh diri," ucapnya.
Menurut Dosen UIN Syarif Hidayatullah ini, perbuatan nekat yang dilakukan keluarga tersebut lantaran tidak ada lagi ruang untuk menampung masalah tersebut. Ditambah lagi, biaya hidup semakin mencekik ketika pemerintah menaikkan harga BBM yang berimbas pada kenaikan harga bahan pokok.
"Ini harusnya menjadi bahan koreksi pemerintah. Ketika ditimpa kesulitan yang berat, tidak ada yang menolong rakyat miskin, tidak ada yang peduli, tidak ada tempat curhat untuk menolong, untuk itu dia mengakhiri kesulitan ini dengan mengakhiri hidupnya," jelas Musni.
Musni menduga bahwa sebagai kepala keluarga, Yudi Santoso tidak tega melihat anak dan istrinya menanggung beban berat kehidupan. Maka dia pun mengajak anak dan istrinya untuk mati bersama dan mengakhiri masalah duniawi tersebut.
"Saya rasa yang ada di pikiran ayah (Yudi) tersebut adalah kalau dia bunuh diri sendiri, dia merasa nanti kehidupan istri dan anaknya yang ditinggal akan tambah susah. Untuk itu diajak keluarganya. Saya rasa ini harus menyadarkan pada kita semua, untuk menimbulkan prinsip gotong royong," tegasnya.
Seperti diketahui, Warga Dusun Morangan Desa Minggiran Kecamatan Papar Kabupaten Kediri, dikejutkan dengan adanya penemuan mayat satu keluarga, yang diduga tewas akibat bunuh diri, Jumat (3/4) malam. Korban bernama Yudi, bersama istrinya dan anaknya perempuannya yang masih TK.
Dugaan sementara, mereka bunuh diri sekeluarga dengan meminum racun dan dari pemeriksaan awal, di tubuh korban tidak ditemukan luka bekas senjata tajam. Namun, petugas tidak menemukan sisa racun ataupun bungkus racun yang digunakan untuk bunuh diri.
Di lokasi kejadian, polisi juga menemukan surat wasiat. Inti dari surat wasiat itu adalah pamitan dan meminta agar mereka dikuburkan dalam satu liang lahat.
"Dugaan sementara karena dipicu masalah pekerjaan," kata kata petugas jaga Polsek Papar, Aiptu Nurhadi.(mdk/siw)