Kemenlu gandeng UNS Solo bikin pusat studi ASEAN
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) meresmikan Pusat Studi ASEAN (PSA). Ini diharapkan bisa meningkatkan kerja sama penelitian ilmiah masyarakat ASEAN.
Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) meresmikan Pusat Studi ASEAN (PSA). Ini diharapkan bisa meningkatkan kerja sama penelitian ilmiah masyarakat ASEAN.
Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Kemlu, Jose Antonio Morato Tavares mengatakan, melalui penelitian ilmiah dilakukan perguruan tinggi, diharapkan bisa memberikan pemikiran tidak biasa untuk kemajuan masyarakat ASEAN. Melalui PSA juga, nantinya akses informasi perguruan tinggi terhadap masyarakat ASEAN diharapkan semakin meningkat.
"Harapan kita tentu nantinya bisa menjadi mitra bagi pemerintah dalam upaya menyebarluaskan informasi mengenai perkembangan terkini ASEAN," ujar Jose, Rabu (26/10)
Jose menyebut, diseminasi di ASEAN terhadap masyarakat sangat luas. Banyak peluang di negara-negara anggota ASEAN bisa dimanfaatkan Indonesia, seperti di sektor perdagangan terkait tarif bebas dan masih banyak lagi.
"Sekarang ini sudah ada 720 perusahaan Indonesia yang melebarkan sayapnya ke negara-negara anggota ASEAN. Pemerintah juga akan terus memperluas diseminasi seperti memasukkan sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) agar bisa masuk ke negara-negara aggota ASEAN," terang dia.
Jose berharap, melalui PSA, antara perguruan tinggi dengan masyarakat ASEAN bisa membuat jejaring kerjasama. Ia menilai kerjasama ASEAN sangat dibutuhkan terutama untuk mengatasi masalah yang terjadi di antara negara anggota ASEAN.
"Sangat dibutuhkan, misalnya masalah terorisme atau perompakan yang terjadi di Filipina, kita tidak bisa begitu saja masuk ke negara lain tetapi melalui ASEAN kita bisa menyelesaikannya," katanya.
Rektor UNS, Ravik Karsidi menambahkan PSA UNS merupakan Yang ke 21 di Indonesia. Peresmian PSA tersebut menjadi wujud kepedulian UNS terhadap masyarakat ASEAN.
"Ini merupakan PSA KE 21. Memasuki Masyarakat Ekonomi Asia (MEA) harus bisa disikapi dan dihadapi. Masyarakat Indonesia termasuk mahasiswa, dosen belum terlalu siap dalam menghadapi MEA," pungkasnya.(mdk/ang)