LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kemendikbud Khawatir Bahasa Indonesia Hilang Karena Penyakit 'Xenomania'

Menguasai bahasa asing, lanjutnya tidak masalah, itu bagus namun yang mengkhawatirkan tingkat kesukaan masyarakat Indonesia terhadap hal-hal yang berbau asing, khususnya bahasa justru memunculkan penyakit xenomania.

2018-11-28 04:29:00
Kemendikbud
Advertisement

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Muh. Abdul Khak mengemukakan, saat ini Indonesia sedang menghadapi penyakit 'Xenomania', yakni kecenderungan terhadap sesuatu yang asing atau datang dari negeri asing, terutama budaya.

"Saya khawatir penyakit xenomania ini akan menyebabkan Bahasa Indonesia menjadi asing, bahkan identitas bahasa Indonesia akan hilang di negeri sendiri karena serbuan kata-kata asing yang justru terus digunakan tanpa dicari padanannya," katanya usai memberikan sambutan pada konferensi internasional bertajuk 'Quality Improvement and Innovation in ELT' di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di Malang, Jawa Timur, Selasa (27/11).

Dikutip dari Antara, menguasai bahasa asing, lanjutnya tidak masalah, itu bagus namun yang mengkhawatirkan tingkat kesukaan masyarakat Indonesia terhadap hal-hal yang berbau asing, khususnya bahasa justru memunculkan penyakit xenomania.

Advertisement

Selain itu, tambahnya bahasa papan iklan (reklame) di Tanah Air sudah banyak yang menggunakan kata-kata asing, sehingga orang asing yang datang ke Indonesia justru tidak melihat kekhasan Indonesia. "Kondisi ini cukup mengkhawatirkan bagi bahasa Indonesia," ucapnya.

Menurutnya peran serta para sarjana, khususnya guru bahasa asing sangat besar dalam mempertahankan bahasa Indonesia. Misalnya, dengan mencari padanan kata-kata asing itu atau istilah dan kata-kata asing itu dapat di-Indonesiakan.

"Peran sarjana atau guru bahasa asing ini sangat penting untuk meng-Indonesiakan dan memadankan. Ini adalah salah satu upaya kita tetap mempertahankan bahasa Indonesia, sebab sekarang istilah-istilah asing, termasuk dalam perekonomian sudah membanjiri negeri ini," tambahnya.

Advertisement

Apakah bangsa Indonesia akan diam dan menerima secara utuh istilah-istilah asing yang membanjiri negeri ini atau disikapi dengan mencari padanan, bahkan berupaya meng-Indonesiakan istilah-istilah asing tersebut.

"Peran serta dan sumbangsih para sarjana dan guru serta ahli bahasa ini sangat kami harapkan," ujar Abdul yang berafiliasi dengan Kemenko PMK tersebut.

Selain mencari padanan atau meng-indonesiakan istilah-istilah asing itu, Muh Abdul Khak mengemukakan Kemendikbud juga membentuk tunas-tunas muda sebagai duta bahasa, termasuk dalam acara atau forum-forum resmi, baik di dalam maupun luar negeri juga harus tetap mengutamakan bahasa Indonesia.

"Kami juga berharap kampus-kampus berstatus kampus internasional di Tanah Air juga tetap menggunakan bahasa Indonesia atau dua bahasa. Penguasaan bahasa asing juga penting, namun jangan lupa dengan bahasa sendiri. Lestarikan bahasa daerah, gunakan bahasa Indonesia dan kuasai bahasa asing dengan tetap mengedepankan jati diri bangsa Indonesia," jelasnya.

Baca juga:
Wapres JK Minta Kemendikbud Matangkan Wacana Hidupkan Kembali PMP
Fahri Hamzah Nilai Rencana Menghidupkan PMP Bentuk Kegamangan Pemerintah
Ketua MPR Dukung Pelajaran PMP Dihidupkan, Metode Disesuaikan Perkembangan Zaman
Guru Honorer Tak Lolos Ujian ASN Rencananya akan Digaji Sesuai UMR
Tangkal Isu PKI, Kemendikbud Akan Hidupkan Kembali Pelajaran PMP
Kemendikbud Bakal Terapkan Sistem Zonasi Agar Sebaran Guru Merata

(mdk/rnd)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.