Kembang api, \'hantu\' demonstran di Gambir
Kembang api digunakan untuk menakut-nakuti roh jahat, sebagai perkembangan dari penemuan bubuk mesiu di China.
Saat membubarkan aksi demontrasi di kawasan stasiun Gambir, aparat kepolisian mengerahkan segala upaya untuk membubarkan ratusan mahasiswa. Bahkan kembang api pun digunakan untuk membubarkan mahasiswa.
Beberapa kali aparat keamanan menembakkan kembang api ke arah kerumunan mahasiswa yang mengatasnamakan Konsolidasi Mahasiswa Nasional Indonesia (Konami). Kembang api yang diarahkan ke kumpulan mahasiswa itu meledak dan mengeluarkan bunga api.
Namun, ratusan mahasiswa rupanya tak gentar dengan senjata baru aparat keamanan tersebut, meski beberapa mahasiswa menunduk saat kembang api tersebut meledak di sekitar mereka.
Beberapa kamera wartawan menangkap jelas kembang api yang meledak di antara kerumunan demonstran tersebut. Namun pihak kepolisian membantah menggunakan kembang api dalam pembubaran aksi tersebut.
"Tidak ada kembang api, itu jenis amunisi gas air mata," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Rikwanto kepada merdeka.com saat dikonfirmasi, Rabu (28/3).
Selama ini kembang api memang identik dengan perayaan tahun baru. Kembang api adalah bahan peledak berdaya ledak rendah yang digunakan umumnya untuk hiburan.
Kembang api pertama kali ditemukan di China. Kembang api digunakan untuk menakut-nakuti roh jahat, sebagai perkembangan dari penemuan bubuk mesiu. Perayaan dan festival seperti Tahun Baru Imlek dan Festival Bulan pada pertengahan musim gugur masih dilengkapi dengan pesta kembang api.
Mungkinkah polisi ingin mengusir 'hantu' demonstran dengan menggunakan kembang api seperti kepercayaan masyarakat China.(mdk/hhw)