LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. PERISTIWA

Kematian orangutan dan kondisi hutan Kalimantan yang makin memprihatinkan

Potensi kematian satwa semakin besar seiring dengan kondisi hutan Taman Nasional Kutai (TNK) yang dikepung permukiman dan perkebunan.

2018-02-07 21:36:00
Satwa Indonesia
Advertisement

Kematian satwa primata Orangutan Kalimantan Timur (Pongo Pygmaeus Morio) yang diperkirakan berusia 5-7 tahun, mati ditembus 130 peluru senapan angin dan 19 luka menganga. Kondisinya sangat memprihatinkan. Potensi kematian satwa semakin besar seiring dengan kondisi hutan Taman Nasional Kutai (TNK) yang dikepung permukiman dan perkebunan.

Sejak 1990-an, hutan TNK di Kalimantan Timur memiliki luas sekitar 198.629 hektare, berada di wilayah kabupaten Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Bontang. Seiring waktu, luasannya terus menyusut. Penyebabnya, marak aktivitas pembangunan permukiman dan perkebunan.

"Ya, TNK memang dikelilingi permukiman dan kebun masyarakat, dan luasannya semakin bertambah. Meningkatkan potensi konflik dengan satwa, itu sudah pasti. Karena kan permukiman bertambah itu perebutan ruang dengan satwa," kata Kepala Balai Taman Nasional Kutai, Nur Patria Kurniawan, saat berbincang bersama merdeka.com, Rabu (7/2).

Advertisement

Patria tidak menampik, kondisi ini membuat semakin banyak aduan dan laporan konflik satwa dan warga di area TNK. "Cukup banyak lah (laporan). Cuma, kalau konflik satwa itu kan sesuai edaran Dirjen, untuk satwa di luar kawasan (TNK) jadi wewenang BKSDA Kaltim," ujar Patria.

Pada 2014 lalu, TNK telah merelakan lahannya berkurang menjadi Areal Penggunaan Lain (APL) atau enclave, untuk permukiman dan perkebunan.

"Sebagian areal permukiman sudah di-enclave tahun 2014. Termasuk lokasi Teluk Pandan (di Kutai Timur) yang menjadi lokasi penemuan (Orangutan terluka 130 peluru senapan angin). Dan itu, kemungkinan besar berada di dalam areal TNK," ucap Patria.

Advertisement

Soal perlindungan satwa, balai TNK mengaku terus berkoordinasi bersama BKSDA. Salah satunya dengan membatasi area khusus yang dijadikan penelitian Orangutan. Setidaknya ada di tiga tempat. Seperti di site Sangkima, Prevab dan Menamang. Namun diakuinya, pergerakan satwa tidak mengenal batas, dan bisa pergi kemana saja.

"Begitu di lokasinya tidak ada makanan, dan terdesak adanya penggunaan lahan, satwa akan mencari tempat lain yang lebih nyaman," jelasnya.

Patria menggarisbawahi, satwa punya 3 unsur yang membuat dia menjadi nyaman apabila terus terpenuhi. "Yang penting, satwa itu 3 yang diperlukan. Seperti Cover, Shelter dan Water. Jadi, ketiga itu kalau ada masalah salah satunya, makan satwa itu akan bergerak," tutupnya.

Baca juga:
Tim gabungan selidiki kasus orangutan yang mati dengan 74 peluru di kepala
Orangutan Kalimantan mati ditembus 100 peluru, telapak kaki kiri hilang
Orangutan mati dibantai tembakan 17 peluru dan tebasan senjata tajam
Bangkai orangutan tanpa kepala ditemukan mengambang di sungai di Kalteng
74 Dari 130 peluru bersarang di kepala orangutan yang mati di Kaltim

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.