Kasus pasien bayi tewas, RS Awal Bros dianggap tidak bersalah
Menurut penyelidik, masalah utamanya hanya miskomunikasi.
Tim investigasi kasus dugaan malapraktik di Rumah Sakit Awal Bros, Bekasi, menyatakan tidak menemukan kesalahan prosedur dalam penanganan Falya Raffani Blegur (14 bulan). Falya meninggal beberapa waktu lalu dalam masa perawatan.
"Berdasarkan investigasi oleh tim investigasi yang dibentuk melalui SK Wali Kota Bekasi, dinyatakan bahwa yang dilakukan oleh RS Awal Bros dan dokter sudah sesuai dengan SOP," kata Ketua Tim Investigasi dari Ikatan Dokter Indonesia, Anthoni D. Tulak, Kota Bekasi, Jumat (4/12).
Anthoni mengatakan, tim investigasi terdiri dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Ikatan Dokter Anak Indonesia, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Seluruh Indonesia, dan Dinas Kesehatan Kota Bekasi. Menurut dia, tata laksana dipakai oleh dokter Y, yang bertanggung jawab menangani pasien, sudah sesuai dengan yang diterapkan di rumah sakit maupun dalam organisasi profesi.
Hanya saja, kata Anthoni, terjadi miskomunikasi antara keluarga pasien dan pihak rumah sakit. Sehingga keluarga pasien merasa informasi perjalanan penyakit dari awal Fayla dirawat hingga memburuk, dan akhirnya meninggal tidak tersampaikan secara jelas kepada keluarga pasien.
"Sehingga menyebabkan informasi yang diharapkan oleh keluarga pasien tidak terpenuhi dengan baik," ujar Anthoni.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bekasi, Anne Nurchandrani mengatakan, pemerintah hanya memberikan surat teguran kepada Rumah Sakit Awal Bros, agar meningkatkan komunikasi efektif antara dokter dengan pasien.
Juru bicara RS Awal Bros, Kuncoro Wibowo mengatakan, pasien masuk dengan diagnosa gizi kurang, diare akut, dehidrasi ringan sedang dan intake sulit. RS Awal Bros telah melakukan pengobatan dan perawatan hingga perawatan inap dan ICU untuk mengupayakan kesembuhan pasien.
Selama dilakukan perawatan, dehidrasi sudah mulai sudah mulai teratasi, tetapi mengalami perburukan dikarenakan adanya proses infeksi yang masih berjalan. Hal itu menyebabkan pasien mengalami syok septik, encefalopati metabolik, pneumonia, dan berakhir dengan multiorgane failure (organ gagal bekerja jamak).
Falya meninggal pada 1 November lalu. Keluarga melaporkan kasus tersebut ke Polda Metro Jaya pada pertengahan bulan lalu karena pihak rumah sakit tak mempunyai itikad baik meskipun disomasi agar memberikan klarifikasi terkait kematiannya. Keluarga menduga, Falya meninggal setelah diberi antibiotik.(mdk/ary)